Home » News » Kasus Penyiraman Novel Baswedan Memasuki Hari ke-100

Kasus Penyiraman Novel Baswedan Memasuki Hari ke-100



Jakarta – Hari ini menjadi hari ke 100 peristiwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (11/4/2017) pagi itu terjadi usai penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu salat subuh di masjid sekitar rumahnya.

Kasus Penyiraman Novel Baswedan Memasuki Hari ke-100

Novel Baswedan

Hingga kini, kasus yang masih ditangani Polda Metro Jaya itu belum memperlihatkan titik terang. Bahkan, boleh dibilang, kian gelap.

Setidaknya hal itu merujuk pada pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Saking sulitnya, ia lantas membandingkan dengan kasus Bom Bali dan Kampung Melayu.

Dalam kasus bom Kampung Melayu beberapa waktu lalu, Tito menjelaskan, begitu mudah mencari dalangnya. Bahkan, pelakunya dibekuk dalam hitungan menit.

Baca juga : Latihan Pasukan Elite Menewaskan Warga Riau

“(Bom Kampung Melayu) karena yang mati itulah barang bukti. Begitu ketemu sidik jari sebentar, kita punya sistem, hitungan menit sudah tau siapa dia. Tinggal ketemu keluarganya, siapa dengan siapa dia terakhir ketemu, baru kita tahu jaringannya,” papar Tito di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Senin (17/7/2017).

Namun, ia menambahkan, kondisi yang berbeda terjadi pada kasus yang menimpa Novel Baswedan. “Tapi kasus hit and run lebih sulit. Penanganan pelemparan kasus bom molotov satu, dengan kasus bom Kampung Melayu, lebih mudah Kampung Melayu. Bom molotov alat buktinya yang ada di TKP, sulit, karena cuma sebentar, waktunya detik,” beber dia.

Namun, Tito memastikan, pihaknya telah menemui beberapa saksi penting dalam kasus Novel Baswedan. Tidak hanya itu, ia menambahkan, Polri juga sudah menawarkan untuk bertemu dengan KPK.

“Kita sudah menawarkan. Sekarang ini perkembangannya sudah ketemu beberapa saksi penting yang mengetahui wajah pelaku, itu ada kemajuan dibanding sebelumnya,” ujar dia.

Ia menjelaskan, pihaknya masih mencari fakta terkait pernyataan Novel Baswedan yang menyebut adanya dugaan keterlibatan jenderal polisi. “Kalau ada fakta akan diproses hukum. Yang kami tau, dia hanya mendengar dan mendapat informasi, tapi tetap akan dilanjutkan (prosesnya),” jelas Tito.

(bens – sisidunia.com)