Home » News » Otoritas Singapura Hukum Gantung Pengedar Narkoba Asal Malaysia

Otoritas Singapura Hukum Gantung Pengedar Narkoba Asal Malaysia



Singapura – Seorang pengedar narkoba asal Malaysia hari ini dihukum gantung Otoritas Singapura. Hukuman tetap dilaksanakan meski adanya permintaan pengampunan dari PBB dan kekhawatiran kelompok-kelompok HAM akan cacatnya proses persidangan pria Malaysia tersebut.

Otoritas Singapura Hukum Gantung Pengedar Narkoba Asal Malaysia

Ilustrasi

Prabagaran Srivijayan ditangkap pada tahun 2012 setelah heroin seberat 22,24 gram ditemukan di dalam mobil yang dikendarainya, saat dia dihentikan di pos pemeriksaan. Dia divonis mati dua tahun kemudian setelah terbukti bersalah atas dakwaan perdagangan narkoba.

Baca juga : Kelompok Humas Puji Serangan di Yerusalem Yang Menewaskan 2 Polisi

Di Singapura, dakwaan mengedarkan narkoba akan dikenai hukuman mati, kecuali ada kondisi tertentu yang memungkinkan untuk meringankan hukuman tersebut.

Biro Narkotika Pusat Singapura menyatakan dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (14/7/2017), pria Malaysia berumur 29 tahun itu dieksekusi mati di penjara pada Jumat (14/7) ini. Eksekusi mati di Singapura dilakukan dengan cara dihukum gantung.

Disebutkan biro tersebut, jumlah narkoba yang ditemukan pada Srivijayan “cukup untuk memenuhi kecanduan sekitar 265 orang untuk sepekan”.

Srivijayan selama ini bersikeras mengaku tak bersalah dan telah mengajukan banding di Singapura dan negara asalnya, termasuk upaya ke Mahkamah Agung Malaysia agar kasusnya dibawa ke pengadilan internasional, International Court of Justice di Den Haag, Belanda.

Permohonan bandingnya di Singapura, termasuk upaya di menit-menit terakhir pada Kamis (13/7) dan permintaan grasi pada presiden, semuanya ditolak.

Sebelumnya, PBB telah menentang rencana eksekusi Srivijayan, dengan kantor badan HAM PBB di Asia Tenggara pekan ini menyerukan Singapura untuk tidak menghukum matinya selagi upaya banding di Malaysia masih berjalan. Organisasi Amnesty International juga telah mengangkat kekhawatiran akan proses persidangan. Termasuk dugaan kegagalan otoritas menindaklanjuti semua petunjuk dan memanggil saksi-saksi mata kunci yang akan menguatkan pengakuan terdakwa. (bens – sisidunia.com)