Home » Techno » Inilah Sisi Gelap Dari Robot Seks

Inilah Sisi Gelap Dari Robot Seks



Jakarta – Meski memiliki beberapa manfaat, para penulis memperingatkan bahwa robot seks menimbulkan pertanyaan moral dan etis yang serius dan perlu ditangani.

Inilah Sisi Gelap Dari Robot Seks

Robot seks

Mereka memperingatkan bahwa para penggunaannya bisa menjadi orang yang terisolasi secara sosial. Bahkan mereka bisa kecanduan mesin yang tidak pernah bisa menggantikan kontak manusia sejati.

Baca juga : Nintendo Switch Menjadi Ancaman Xbox

“Ini sangat menyedihkan karena hanya menyediakan hubungan satu arah,” kata Sharkey.

“Jika orang sudah terikat dengan robot itu, akan sangat mengkhawatirkan. Anda mencintai sebuah benda yang tidak bisa mencintai Anda kembali.”

Produsen boneka seks asal Jepang Trottla juga mulai menjual boneka di bawah umur untuk para pedofil. Perusahaan itu diciptakan oleh seseorang yang mengaku pedofil, Shin Takagi, dan mengklaim bahwa dirinya tidak pernah melukai seorang anak pun karena menggunakan boneka tersebut.

Meskipun beberapa ahli mengklaim bahwa robot semacam itu dapat mencegah pelecehan seksual terhadap wanita dan anak-anak, laporan tersebut memperingatkan bahwa hal itu dapat memperburuk masalah.

Profesor Filsafat dan ahli etika robot Patrick Lin dari Politeknik California mengatakan, mengobati pedofil dengan robot seks anak-anak adalah ide yang meragukan dan menjijikkan.

Selain itu, ada kekhawatiran khusus bahwa robot seks dapat memperkuat objektivitas pada perempuan. Mereka menyebut, robot seks perempuan akan didasarkan pada representasi yang dikumpulkan dari pornografi.

Menurut asisten profesor dalam bidang etika dan teknologi di Technical University of Delft dan co-director FRR, Aim van Wynsberghe, hal tersebut bisa mempengaruhi interaksi antarmanusia.

“Robot seks adalah studi kasus yang menarik…,” kata Wynsberghe seperti dilansir The Guardian.

“Kita berinteraksi dengan robot yang dapat dipersonalisasi (sesuai keinginan pengguna)…Apakah itu berarti kita tidak ingin berinteraksi dengan manusia lagi karena lebih mudah berbicara dengan robot atau lebih mudah terlibat dalam kepuasan seksual dengan robot itu?” ujar Wynsberghe.

(bens – sisidunia.com)