Home » News » Seorang Remaja SMP Pulang Dengan Keadaan Linglung, Kenapa?

Seorang Remaja SMP Pulang Dengan Keadaan Linglung, Kenapa?



Semarang РAmin (50) mencurigai perilaku aneh remaja putri remaja belasan tahun dan diduga tersesat di kawasan Desa Dadapan, Tembalang, Rabu (14/6/2017) siang. Amin pun menghampirinya.

Seorang Remaja SMP Pulang Dengan Keadaan Linglung, Kenapa?

Gambar ilustrasi

Perempuan itu mengenakan kaus hijau bergambar kupu-kupu, celana panjang hitam dan sandal jepit hijau.

“Tadi ketemu sekitar jam 10 siang. Mbaknya mondar-mandir di kampung, jalannya sempoyongan, bicaranya pun nglantur. Saya ajak pulang saja,” tutur Amin.

Tiba di rumah Amin, perempuan yang belum diketahui identitasnya itu sempat dimandikan istri Amin.

Sembari menunggu perempuan itu mandi, Amin pula melapor ke aparat desa setempat.

“Selesai mandi, dia saya tanya identitasnya. Jawabannya masih ngalor-ngidul (tidak jelas). Dia bilang namanya Cinta alias Cemplon warga Jomblang, sekolah di SMP Muhammadiyah Mrican,” beber Amin.

Berawal dari informasi yang sempat viral di Facebook itu, dua anggota Media Informasi Kota Semarang (MIK Semar) Sigap, Basori dan Yohanes, masing-masing mendatangi rumah Pak Amin dan sekolah yang dimaksud.

Identitas remaja putri itu pun terungkap. Namanya Imanda, siswi kelas 8 di SMP Muhammadiyah 3 Mrican.

Dia anak dari pasangan Rini Puji Rahayuningsih dan Alam Wiyarno Ilham, warga Jomblang Perbalan RT 6 RW 2, Candisari, Kota Semarang.

“Imanda bilang kemarin sore diajak dua pria minum ciu dan ngepil di sekitar jembatan Talang. Setelah itu tak sadar. Dia juga lupa identitas dua pria itu,” ujar Basori di rumah Amin.

Terpisah, Yohanes pula mendapat informasi keberadaan orangtua Imanda.

“Keterangan sang ibu, Imanda berpamitan pergi bukber (buka bersama) ke rumah teman hari Selasa (13/6/2017) sore. Sampai Rabu pagi belum pulang. Untungnya sudah ketemu,” kata Yohanes.

Yohanes pun mengantar ibunda Imanda ke rumah Pak Amin di Dadapan. Ibu dan anak itu pun dipertemukan. Mereka saling berpelukan serta mencurahkan air mata.

Tak ada tanda-tanda penganiayaan di tubuh Imanda. Menurut Basori, hanya ada dua bekas tanda ciuman di leher Imanda.

“Pihak orangtua berencana melapor ke polisi. Kami siap mendampingi keluarga Imanda,” imbuh Basori.

(seph – sisidunia.com)