Home » Gaya Hidup » Ini Yang Bisa Menyebabkan Budaya Kerja Rusak

Ini Yang Bisa Menyebabkan Budaya Kerja Rusak



Jakarta – Pendiri perusahaan punya mimpi tentang perusahaannya yang berkembang di masa depan. Dia menyuntikkan nilai-nilai tersebut pada visi, misi, dan menerapkannya kegiatan kerja setiap hari. Pemimpin perusahaan merancang budaya kantor sebagai salah satu kerangka kerja terpenting karena lingkungan kerja yang baik bisa meningkatkan produktivitas karyawan. Sementara itu, pegawai pasti merasa senang bekerja di perusahaan dengan budaya kerja yang baik. Loyalitas karyawan pada perusahaan akan meningkat.

Ini Yang Bisa Menyebabkan Budaya Kerja Rusak

Ilustrasi

Sebaliknya, saat pemimpin perusahaan gagal mentransfer nilai-nilai pada karyawan, maka akan tercipta budaya kerja yang buruk. Hal ini akan membuat pegawai tidak betah di kantor. Budaya kerja yang buruk bisa membuat perusahaan kehilangan tenaga kerja berkualitas. Berikut beberapa hal yang bisa “merusak” budaya kerja seperti disarikan dari Fastcompany.com.

Tidak Ada Contoh dari Pemimpin

Pemimpin harus memberi contoh positif pada semua pegawai. Jangan memaksakan budaya kantor budaya kantor bertentangan dengan kepribadian pemimpin perusahaan. Misalnya, ketika seorang pemimpin melihat perusahaan lain yang melakukan kegiatan bersepeda ke kantor menjelang akhir pekan. Kegiatan ini menyenangkan dan membuat pegawai merasa terikat. Kemudian pimpinan mencoba menyontek cara tersebut untuk menciptakan suasana kerja tim yang menyenangkan. Padahal dia bukanlah orang yang suka olahraga. Hal ini tidak akan berhasil.

Budaya perusahaan yang kohesif dimulai dari pemimpinnya. Misalnya, founder Facebook yang membawa suasana kerja santai, dengan memperlihatkan gaya berpakaiannya yang hanya menggunakan kaus hitam sederhana setiap hari. Dia juga mengatur ritme dari perusahaan bernilai USD200 miliar tersebut. Dia mengadakan sesi tanya-jawab dengan staf setiap pekan, memberikan tunjangan besar untuk pegawai, dan memekerjakan banyak pegawai usia muda. Hal ini merupakan pendekatan pada target pasar. Facebook memposisikan diri untuk melayani keinginan dan kebutuhan penggunanya.

Ide besar dari pemimpin perusahaan seharusnya bisa ditularkan kepada semua orang. Mulai dari jajaran direktur, manajer, hingga staf. Jika Anda memimpin sebuah tim di kantor, maka Anda harus menyerap nilai-nilai yang ingin disampaikankan pendiri perusahaan, kemudian memberikan contoh pada staf.

Aturan yang Ditetapkan Tanpa Tujuan dan Pemikiran Umum

Setiap aturan yang diterapkan di kantor haruslah beralasan. Jika tidak, maka akan menimbulkan banyak pertanyaan. Misalnya, saat perusahaan membuat aturan berpakaian rapi di kantor: harus dengan kemeja dan celana bahan. Pembuat aturan harus memberi alasan mengapa pegawai harus berpakaian sangat rapi setiap hari. Apakah pegawai tidak boleh memakai kaus berkerah sesekali? Memangnya karyawan akan bertemu klien setiap hari? Apakah pimpinan sendiri belum bisa memberi alasan kuat untuk mendukung peraturan yang dibuat?

Pimpinan perusahaan hingga level manajer harus bisa menjelaskan setiap aturan yang diterapkan. Pastikan setiap aturan memiliki alasan kuat. Dengan begitu, pegawai mau mengikutinya.

Gagal Menjawab Pertanyaan tentang Budaya Kerja

Perusahaan seperti Google menerapkan budaya kerja yang menyenangkan. Perusahaan membuat kegiatan tim, menyediakan makanan gratis, dan membuat kantor terbuka. Mereka iingin membangun loyalitas pegawai, memotivasi kreativitas, dan membuat setiap karyawan selalu bahagia saat mengerjakan tugas.

Apakah perusahaan tempat Anda bekerja juga harus menerapkan budaya kerja yang sama seperti Google? Belum tentu. Anda tidak bisa hanya menyontek budaya kerja di Google tanpa tahu alasannya.

Ciptakan budaya perusahaan yang benar-benar sesuai dengan Anda. Misalnya, perusahaan menerapkan aturan jam kerja fleksibel terutama untuk tim kreatif yang bisa produktif bekerja saat malam hari. Selain itu, perusahaan membuat aturan coffee break setiap jam tertentu karena tahu tekanan kerja pegawai. Intinya, setiap hal yang diterapkan di kantor harus beralasan.

Membangun Tim yang Salah

Selama ini, banyak perusahaan yang merekrut pegawai dengan melihat kompetensinya saja. Mereka melihat cv, meneliti prestasi dan pengalaman seseorang. Saat pegawai tersebut bekerja, ternyata dia tidak bisa bekerja seiring dan sejalan dengan nilai-nilai perusahaan. Itulah salah satu hal yang bisa merusak budaya kerja di kantor.

Anda bisa melihat bagaimana Zappos menanamkan budaya perusahaan pada pegawai mulai dari masa perekturan. Mereka menyeleksi pegawai yang sesuai dengan budaya perusahaan. Anda juga perlu mencontoh hal baik ini. Misalnya, perusahaan perlu merekrut seseorang ke dalam tim marketing yang memasarkan produk dengan target pasar anak muda. Mungkin Anda harus mengutamakan calon pegawai yang berjiwa muda dan bertalenta.

(bens – sisidunia.com)