Home » News » Diperkosa Gurunya, Santri Pondok Pesantren Ini Mengalami Pendarahan

Diperkosa Gurunya, Santri Pondok Pesantren Ini Mengalami Pendarahan



Tulungagung – Santriwati salah satu pondok pesantren di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung harus menjalani perawatan intensif di RSUD dr Iskak. Pasalnya, siswa kelas IV SD itu pendarahan dan trauma diduga akibat diperkosa salah satu gurunya.

Diperkosa Gurunya, Santri Pondok Pesantren Ini Mengalami Pendarahan

Gambar ilustrasi

“Korban ini masih 11 tahun dan saat ini duduk di kelas IV SD yang berada di lingkungn pondok. Untuk kasusnya sudah kami laporkan ke Polres,” kata salah satu pendamping korban, Catur Subagyo kepada wartawan di Mapolres Tulungagung, Minggu (14/5/2017).

Baca juga : Belum Diketahui Apa Penyebab Kebakaran di Pasar Legi Donggolangit Ponorogo

Menurutnya, kasus dugaan kekerasan seksual itu diketahui keluarga sepekan yang lalu. Saat itu korban yang memasuki libur sekolah pulang ke rumah keluarganya di Kecamatan Kalidawir, Tulungagung. Namun selama di rumah, korban selalu murung dan mengeluh sakit pada alat vitalnya, terutama saat buang air kecil.

Selama berada di rumah, korban selalu mengurung diri di kamar dan terus-menerus menangis. Mengetahui kondisi tersebut, keluarga korban akhirnya membawa korban ke Puskesmas Kalidawir. Namun karena kondisi luka yang dialami cukup serius, akhirnya dirujuk ke RSUD dr Iskak Tulungagung.

Catur menceritakan, awalnya korban tidak mau mengaku jika mengaami dugaan kekerasan seksual. Namun setelah didesak pihak keluarga, akhirnya korban mengaku dan menyebut pelakunya adalah salah satu staf pengajar di sekolah berinisial U. Selain itu ia juga diduga mengalami pelecehan dua kakak kelasnya yang duduk di kelas V.

Sedangkan salah seorang anggota keluarga korban, Aziz Prasida mengaku, dari hasil pemeriksaan medis di RSUD dr Iskak, pada alat vital korban ditemukan cairan sperma. Pihak rumsha skait juga telah menyarankan keluarga untuk melaporkan kejadian tersebut ke aparat kepolisian.

“Akhirnya kami memutuskan untuk melaporkan ke polisi, sesuai dengan saran dari pihak medis,” katanya.

Sementara hingga kini belum ada keterangan resmi dugaan kekerasan seksual tersebut dari pondok pesantren. Sejumlah wartawan di Tulunggung yang datang ke pesantren gagal menemui pengasuh, karena sedang keluar.

Sejumlah pengurus maupun guru enggan memberikan komentar banyak, karena hal tersebut wewenang langsung dari pengasuh. Namun dari informasi yang dihimpun detikcom, kejadian itu telah diketahui kalangan pesantren dan tengah menjadi pembahasan jajaran pengurus.

Dikonfirmasi terpisah KBO Satrerkrim Polres Tulungagung, Iptu Hery Poerwanto mengatakan, pihaknya telah mendapat laporan resmi kasus tersebut. Saat ini perkaranya sedang dalam penanganan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Tulungagung.

“Kami masih melakukan pemeriksaan ibu pelapor, untuk korban masih belum memungkinkan, karena kondisinya masih trauma. Kami lengkapi keterangan saksi dulu,” jelasnya.

(bens – sisidunia.com)