Home » News » Gangguan Mental, Seorang Remaja Dikurung Di Kamar Selama 7 Tahun

Gangguan Mental, Seorang Remaja Dikurung Di Kamar Selama 7 Tahun



Bandung – Selama hampir 11 tahun, Yusuf (14) mengalami perilaku tak biasa. Yusuf sering mengamuk sehingga kedua orang tuanya Aat Nurjaman (35) dan Ratnasari (38) terpaksa mengurungnya di sebuah kamar menggunakan terali besi. Yusuf dikurung di kamar sempit itu selama tujuh tahun.

Gangguan Mental, Seorang Remaja Dikurung Di Kamar Selama 7 Tahun

Gambar ilustrasi

Kondisi fisik anak pertama dari dua bersaudara itu secara umum sehat. Hanya saja berdasarkan analisis sementara dokter, Yusuf mengalami gangguan mental sehingga membuatnya lebih agresif.

Baca juga : Dipicu Cemburu, Ayah di Riau Tega Bunuh Anak Tirinya

“Jadi Yusuf bukan gangguan jiwa, tapi mental. Makanya Yusuf sering ngamuk dan lebih agresif,” kata Irfan Herdiansyah usai memeriksa kondisi Yusuf di rumah orang tua Yusuf, blok Pareman, RT01 RW04, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/5/2017).

Dokter Puskesmas Kopo Bandung ini mengatakan perubahan perilaku Yusuf ini kemungkinan besar bersumber dari adanya kelainan di otak. Tingkat kecerdasan Yusuf diduga lebih lemah dibandingkan remaja seusianya.

Lebih lanjut Irfan mengatakan, perlu dilakukan observasi lebih jauh oleh dokter spesialis saraf untuk mengetahui problem di otak Yusuf. “Jadi perlu ada tes IQ (Intelligence Quotient) untuk mengetahui seberapa berat penyakit Yusuf,” ujar dia.

Selain melakukan sejumlah tes, kata dia, untuk pengobatan Yusuf juga harus dilakukan psikoterapi yang maksimal. Sebab, dengan cara itu akan secara bertahap memulihkan mental Yusuf yang mengalami gangguan sejak kecil.

Menurut Irfan, kemungkinan Yusuf untuk sembuh total sulit. Namun, setidaknya dengan pengobatan yang dijalaninya nanti bisa mengurangi keagresifan Yusuf. Sehingga, diharapkan tidak perlu lagi dikurung di dalam sebuah kamar.

“Sembuh total tidak, tapi untuk mengurangi agresif dan tidak mengganggu orang lain bisa,” ucap Irfan.

Aat, ayah Yusuf, berharap anak sulungnya itu bisa sembuh dan beraktivitas seperti remaja lainnya. Ia berkeinginan agar Yusuf dapat menjalani pengobatan secara maksimal.

Namun, pengalaman buruk yang pernah menimpa anaknya ketika dirawat di salah satu rumah sakit jiwa, beberapa tahun lalu, membuat keluarga tersebut enggan merawatnya di rumah sakit. Mereka lebih memilih untuk menjalani berobat jalan.

“Kalau memang bisa lebih baik berobat jalan. Soalnya lebih terpantau oleh kami juga. Takut kejadian kayak yang dulu. Kalau cuma pemeriksaan saja enggak masalah, tapi kalau dirawat lebih baik di rumah,” tutur Aat.

(bens – sisidunia.com)