Home » News » Asyik Joget, Dua Bandar Judi Ditangkap Polisi

Asyik Joget, Dua Bandar Judi Ditangkap Polisi



Bangkalan – Anggota Polres Bangkalan, Jawa Timur berhasil menangkap dua orang bandar judi dadu asal Surabaya di tengah pertunjukan orkes dangdut di Desa Kebun, Kecamatan Kamal.

Asyik Joget, Dua Bandar Judi Ditangkap Polisi

Gambar ilustrasi

“Kedua bandar judi dadu yang berhasil ditangkap petugas ini berinisial AF (44) dan RM (42). Keduanya asal Surabaya,” kata Kasubag Humas Polres Bangkalan, AKP Bidarudin di Bangkalan, Jumat (12/5/2017).

Baca juga : Pelaku Pemenggal Kepala Seorang Bocah di Taipei Lolos Dari Hukuman Mati

Ia menjelaskan, penangkapan kedua bandar judi dadu itu dilakukan oleh petugas kepolisian Polsek Kamal, Rabu 10 Mei 2017 lalu sekitar pukul 21.00 WIB. Dari kedua tersangka itu, polisi juga berhasil menyita sejumlah barang bukti. Antara lain uang tunai sebesar Rp430 ribu satu buah beberan dadu, dua buah biji dadu dan alas tekel serta satu buah lampu tempel warna merah.

Bidarudin menuturkan, kejadian bermula saat anggota Polsek Kamal menerima informasi dari masyarakat yang disampaikan melalui pesan singkat (SMS) telefon seluler.

Dalam pesan singkat itu disebutkan, bahwa di sekitar lokasi hiburan orkes dangdung yang digelar salah seorang warga di Desa Kebun, Kecamatan Kamal, Bangkalan ada sekelompok orang yang sedang bermain judi dadu. Polisi yang menerima informasi itu, selanjutnya melakukan pengecekan ke lokasi dimaksud.

“Sesampainya di lokasi seperti yang diinformasikan masyarakat itu, ternyata disana memang ada kerumunan orang yang sedang asyik bermain judi dadu,” tutur Bidarudin.

Kala itu, petugas langsung melakukan penggerebekan, dan tertangkap dua orang yang menjadi bandar judi dadu itu.

“Keduanya langsung digelandang ke Mapolsek Kamal dan ditahan, berikut barang bukti yang berhasil dimanakan petugas,” ucap Bidarudin.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 303 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang Perjudian dengan ancaman hukuman selama-lamanya 10 tahun atau denda Rp250 juta. (bens – sisidunia.com)