sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » Travel & Kuliner » Inilah Perbedaan Teh Jepang Dengan Teh Lainnya

Inilah Perbedaan Teh Jepang Dengan Teh Lainnya



Jakarta – Selama ini, Jepang dikenal sebagai negara penghasil teh berkualitas, khususnya teh hijau. Ada beberapa karakteristik yang membedakannya dari teh negara lain.

Inilah Perbedaan Teh Jepang Dengan Teh Lainnya

Teh hijau

Mengawali Japanese Tea Class (7/5/2017), peserta diberi cold brew tea. Teh ini bisa dibuat dengan menaruh dalam wadah lalu ditaruh dalam kulkas selama 6-12 jam.

Baca juga : Menu Ala Mexico : Fish Taco yang Segar di Akhir Pekan

“Teh Jepang cocok untuk cold brew karena mereka yang memperkenalkannya. Biasanya memakai jenis teh hijau dan sebaiknya teh berkualitas bagus,” Ratna Soemantri membuka kelas teh.

Ia kemudian bercerita mengenai karakteristik teh Jepang. Teh di sana punya ukuran daun yang lebih kecil-kecil. Karena teh berasal dari Camellia Sinensis var Sinensis yang cocok untuk daerah subtropis.

“Jepang satu-satunya yang punya pemandangan kebun teh rapi. Mereka mayoritas memakai mesin ada yang bentuk bulat dan rata. Tapi mesinnya baik dan pemotongan tidak kelewatan sehari. Diambil bagian pucuknya,” ungkap Ratna sambil menunjukkan gambar perkebunan teh di Jepang.

Teh di Jepang sendiri berawal dari Periode Nara (710-794). Saat itu teh diperkenalkan oleh orang China ke Jepang. “Awalnya teh masih produk mewah hanya untuk bangsawan dan priest. Waktu itu masih berbentuk bubuk karena dari China dibawa seperti itu,” kisahnya.

Mengenai karakteristik teh Jepang, ada banyak perbedaan dari teh lainnya. Mayoritas teh Jepang disebut Yabukita yang berasal dari jenis teh khusus. Hampir 100% produk teh di sana merupakan jenis teh hijau.

Daerah utama perkebunan teh ada Kagoshima, Shizuoka dan Uji (Kyoto). Daerah lainnya seperti Saitama, Ureshino, Gokane dan Wakayama. Pemetikan teh di Jepang berlangsung dalam beberapa periode. Periode pertama pemetikan dianggap premium. Karena daun teh pada periode ini tinggi nutrisi. Teh juga dianggap paling penting karena menentukan penghasilan petani.

Teh petikan pertama biasa berlangsung sekitar April-Mei tergantung wilayah. Karena terjadi pada awal tahun disebut juga dengan istilah Sincha (teh baru). “Beda hasil petikan pertama dari panen selanjutnya. Petani akan berusaha keras untuk panen pertama jadi paling berkualitas karena harganya paling mahal. Kalau pertama nggak bagus, nantinya penghasilan kurang,” ungkap Ratna.

Hasil petikan teh nantinya melalui berbagai proses sebelum sampai ke konsumen. Sebesar 95% teh hijau di Jepang menggunakan proses steaming. Proses pemberian uap panas tersebut dilakukan untuk menghentikan oksidasi. Steaming ikut berkontribusi membuat warna teh jadi hijau. Untuk rasa, teh Jepang terkenal dengan rasa umami. Sehingga ada jejak gurih pada teh. (bens – sisidunia.com)