Home » Gaya Hidup » Hati-hati, Jangan Menganggap Anak Gemuk Itu Lucu

Hati-hati, Jangan Menganggap Anak Gemuk Itu Lucu



Jakarta – Kasus obesitas dijaman modern ini telah menyita perhatian banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Pasalnya semakin canggih beragam teknologi yang di ciptakan, maka dampak yang bisa ditimbulkan adalah semakin malas orang untuk banyak bergerak.

Hati-hati, Jangan Menganggap Anak Gemuk Itu Lucu

Ilustrasi

Contohnya saja dengan adanya alat transportasi yang semakin lama semakin nyaman. Maka tak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang bepergian menggunakan alat transportasi tersebut, tak peduli jarak yang ditempuh jauh atau dekat, karena orang sudah malas untuk berjalan kaki atau menggunakan sepeda pancal.

Selain kecanggihan alat transportasi, ada pula kecanggihan alat komunikasi yang memungkinkan seseorang menjelajah tanpa mengenal arah dan waktu. Contohnya saja website yang menyediakan fasilitas berbelanja secara online yang memudahkan seseorang berbelanja tanpa panas dan hujan, cukup klik melalui jari dan menunggu barang yang dipesan segera datang ke tempat yang diinginkan.

Akibat tubuh yang kurang bergerak dan kalori dari makanan yang masuk dalam tubuh semakin banyak, timbullah yang dinamakan tubuh yang obesitas. Ini merupakan sebuah masalah yang sangat serius dan Indonesia sendiri sudah menduduki peringkat ke-10 didunia terkait tingkat obesitas penduduknya.

Komplikasi penyakit akibat obesitas di antaranya, penyakit jantung, diabetes melitus, dislipidemia, gangguan pernapasan pada saat tidur, kanker dan penyakit kardiovaskular utama lainnya. Apabila tidak mendapatkan intervensi atau penanganan medis yang tepat, maka obesitas dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit di atas, bahkan kematian.

Bahayanya lagi, saat ini obesitas di Indonesia juga telah melanda anak sejak usia dini. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan, sebanyak 18,8 persen anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8 persen menderita obesitas.

Pada anak, dampak obesitas bisa sangat buruk bagi tumbuh kembang mereka. Hal itu disampaikan oleh dokter spesialis anak. Dr Marlyn C Malonda, Sp.A.
“Obesitas memberikan dampak buruk terhadap tumbuh kembang anak terutama dalam aspek organik dan psikososial. Obesitas pada anak berisiko tinggi pada obesitas di masa dewasanya nanti,” ujar dr Marlyn di Rumah Sakit OMNI Alam Sutera, Tangerang Selatan, belum lama ini.

“Pada 2020 (diperkirakan) bisa terjadi peningkatan sebesar 9,1 persen atau sekira 60 juta populasi anak di dunia mengalami obesitas,” tambahnya.

Selain itu, ragam penyakit juga akan mengancam anak obesitas di masa dewasanya nanti. Dr Marilyn menyebutkan beberapa di antaranya adalah peningkatan tekanan darah, aterosklerosis atau kekakuan pada pembuluh darah, adanya pembesaran pada ventrikel kiri atau pembesaran jantung, bisa juga disertai sumbatan jalan napas pada saat tidur atau sleep apnea, asma, gangguan psikosial, sindrom polikistik ovarium.

Baca juga : Resep Tak Banyak Makan Bagi Orang Jepang

Adapun gangguan lainnya yang disebutkan, seperti diabetes melitus tipe 2, perlemakkan hati, abnormalitas kolesterol darah meningkat, sehingga menyebabkan sindrom metabolik, dan gangguan tulang.

Karena itu, orangtua perlu lebih aware terhadap permasalahan obesitas pada anak. Salah satunya dengan mengetahui tanda-tanda anak mengalami obesitas seperti berikut ini:

Kepala
Secara umum, wajahnya bulat dan pipinya tembem, chubby. Kemudian dagunya double chin, seperti ada dua dagu karena adanya timbunan lemak.

Leher
Umumnya, anak obesitas sudah dapat diketahui dari profil wajahnya. Jarak antara kepala dan leher terlihat pendek, sehingga ruas lehernya tidak terlihat.

Dada
“Dadanya membusung dengan payudara yang membesar. Kalau anak cowok gemuk dan payudaranya membesar, mungkin ia akan merasa risih dengan teman-teman di sekolahnya atau mungkin pada usia dewasa,” tutur dr Marlyn.

Lipatan perut
Anak obesitas cenderung memiliki lipatan perut yang banyak. Dr Marlyn mengatakan kebiasaan orang berpikir, anak yang perutnya besar terlihat lucu, padahal ia amat tidak sehat.

Ekstremitas
“Ekstremitas, jadi dia harus menahan bobot tubuhnya, sedangkan kekuatan tulangnya tidak sesuai dengan bobot tubuhnya. Sehingga saat berjalan ia membentuk huruf “x”,” tambahnya.

Genitalia
Tidak memengaruhi profil wajah atau tubuh anak, obesitas juga memengaruhi ukuran Mr P anak yang tampak kecil. Bahkan, masa depan anak tergantung bagaimana ia berpola hidup di antara pada masa anak dan remaja.

Indeks massa tubuh
Bila indeks massa tubuh anak menurut CDC 2002, anak yang berusia 2-18 tahun dengan indeks massa tubuh lebih dari P95, sudah dianggap obesitas.
(Muspri-sisidunia.com)