Home » News » Wakil Ketua MPR Meminta Dai Untuk Tangai Berita Hoax

Wakil Ketua MPR Meminta Dai Untuk Tangai Berita Hoax



Padang – Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid resah akan adanya kabar hoax di era kemajuan teknologi saat ini. Dia meminta para dai untuk turun tangan mengatasinya.

Wakil Ketua MPR Meminta Dai Untuk Tangai Berita Hoax

Hidayat Nur Wahid

“Dampak buruk globalisasi dan modernisasi yang sangat berdampak luas adalah teknologi dan media informasi atau media sosial. Berita-berita dan kabar-kabar hoax terus mengisi ruang-ruang kita hingga ke kamar tidur melalui gadget modern termasuk stigma radikalisme yang diarahkan ke Islam secara keseluruhan,” ujar Hidayat dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/4/2017).

Hidayat mengatakan itu di hadapan para dai peserta Dialog Interaktif Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sumatera BaraT dalam rangka memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW dengan tema ‘Dakwah dan Tantangan Global’, di Hotel Bumi Minang, kota Padang, Sumatera Barat, hari ini.

Diutarakan Hidayat, begitulah kehidupan. Rasulullah pun dahulu mengalami pula dampak globalisasi. Apalagi di era Rasululah dulu ada dua kekuatan besar yakni Persia dan Romawi. Kekuatan-kekuatan besar tersebut berupaya melakukan penetrasi pengaruhnya kepada dakwah Rasulullah tapi tidak sekalipun menggoyahkan Rasulullah.

“Perilaku Rasulullah wajib dijadikan teladan kita dalam menghadapai tantangan global. Para dai harus sadar akan hal ini dan terus berdakwah untuk mengeliminir bahkan menghilangkan stigma radikal kepada Islam,” katanya.

Dikatakan Hidayat, patut disyukuri di era globalisasi ini, rakyat Indonesia menghadapi era keterbukaan. Kuatnya informasi tapi sekaligus kuatnya hak-hak individual. Salah satu pelaksanaan hak-hak tersebut bisa menghasilkan sesuatu yang tidak terduga. Contohnya, seorang Presiden Austria yang terpilih melalui mekanisme terbuka yang melawan arus besar di Eropa dan Amerika yakni kelompok-kelompok yang anti imigran dan anti Islam yang ingin melindungi penduduk asli.

“Bahkan dalam pemilihan PM Belanda, Partai Geert Wilders yang terkenal menjual anti Islam dan anti imigran kalah. Artinya, gerakan-gerakan anti Islam, anti imigran dan lainnya sudah mulai terpinggirkan,” imbuhnya.

Di Indonesia, soal perbedaan sebenarnya sudah selesai dan telah dijelaskan secara gamblang pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila.

“Para aktivis dakwah, para dai-dai mesti memberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat Indonesia dan dunia. Dakwah itu bukan memaksa orang masuk Islam. Dakwah itu juga bukan dalam rangka menjustifikasi kejahatan. Dakwah itu adalah untuk membuka jalan, silakan Anda mau menerima atau tidak tapi inilah suara Islam, dengarkan suara Islam,” ucap Hidayat.

(bens – sisidunia.com)