Home » News » Kumis ala Erdogan Kini Menjadi Tren di Kalangan Politisi Turki

Kumis ala Erdogan Kini Menjadi Tren di Kalangan Politisi Turki



Jakarta – Presiden Turki Recep Tayyip memang menjadi panutan bagi para pendukungnya. Salah satu yang ditiru oleh para lelaki dari sang presiden adalah kumisnya.

Kumis ala Erdogan Kini Menjadi Tren di Kalangan Politisi Turki

Recep Tayyip

Perdana menteri Turki memelihara kumis, menteri kebudayaan setali tiga uang. Bahkan menteri perekonomian yang menteri luar negeri yang tadinya berwajah “mulus” kini memelihara kumis.

Kumis yang tertata rapi milik Presiden Presiden Erdogan itu menjadi semacam tren di kalangan menteri dan politisi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa.

Beberapa analisa mengatakan, masalah kumis ini bukan kebetulan. Apalagi, kumis dan politik Turki memiliki sejarah yang signifikan.

Bahkan, kesetiaan para pejabat tinggi sedang diuji menyusul kudeta militer yang gagal menggulingkan Presiden Presiden Erdogan tahun lalu.

“Belakangan, saat Turki sedang memerangi organisasi teror, dan setelah percobaan kudeta, memelihara kumis memang memberikan citra kuat dan tegas,” kata Mesut Sen, profesor studi Turki di Universitas Marmara, Istanbul.

Secara historis, para pria Turki memelihara kumis bukan hanya untuk menonjolkan sisi kejantanan namun juga soal afiliasi politik mereka.

Secara tradisional, para politisi berhaluan nasionalis akan memelihara kumis panjang dengan ujung mengarah ke bawah, mirip bulan sabit dalam bendera Turki.

Sementara para politisi sayap kiri memelihara kumis tebal dan rimbun ala pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin.

Sementara Presiden Presiden Erdogan memelihara kumis yang tercukur rapi. Model semacam ini populer di kalangan konservatif dan religius.

Setahun lalu, lebih dari separuh menteri pria di kabinet tak memelihara kumis atau janggut. Kini dari 26 menteri pria di kabinet Turki hanya tiga saja yang mempertahankan wajah “bersih” mereka.

Tren kumis ini nampaknya muncul usai “reshuffle” kabinet tahun lalu yang memicu spekulasi bahwa para menteri mencoba menyenangkan hati Presiden Erdogan dengan memelihara kumis yang mirip dengan milik sang presiden.

Sejak kudeta militer yang gagal pada tahun lalu, para politisi senior AKP langsung menumbuhkan kumis, beberapa bahkan menggabungkan dengan janggut lebat.

Salah satu menteri yang tak mau disebutkan namanya mengatakan, sejumlah menteri memelihara kumis karena perintah Presiden Erdogan.

Sayangnya menteri itu enggan memberikan informasi lebih rinci soal perintah menumbuhkan kumis tersebut. Tren memelihara kumis ini tak terhenti di lingkaran kabinet semata.

Kepala intelijen Turki yang menjadi sumber kontroversi terkait kegagalannya memperingatkan Presiden Erdogan tentang percobaan kudeta juga mengikuti tren ini.

Hakan Fidan pertama-tama menumbuhkan kumis lalu janggut lebat. Demikian pula pengawal pribadi Presiden Erdogan, yang dulunya berwajah bersih kini mulai menumbuhkan kumis.

Di kawasa Kasmipasa, Istanbul, tempat Presiden Erdogan dilahirkan, seorang tukang cukur bernama Ahmet Guler yakin tren kumis ini disebabkan para politisi AKP ingin meniru sang presiden.

“Karena jika tak berkumis dia akan menarik perhatian. Seorang pria Muslim seharusnya memang memelihara kumis,” ujar Guler .

Sementara itu, Barin Kayaoglu, seorang pakara budaya dan sejarah Turki, menjelaskan, kumis dan janggut tetap menjadi hal penting dalam masyarakat dan politik negeri itu tetapi hal tersebut mulai berubah.

Barin mencatat banyak anak muda Turki yang mulai menumbuhkan janggut “hipster” yang diterima dalam berbagai ideologi.

“Budaya Turki melihat memelihara kumis dan janggut adalah ekspresi maskulin tetapi asosiasi itu sudah tak sekuat dulu,” kata Barin.

Menurut harian Hurriyet, Menteri Ekonomi Nihat Zeybekci, yang dulu memangkas kumisnya, kini menumbukannya kembali setelah Presiden Erdogan “bergurau” bahwa beberapa menteri tak mendengarkannya.

Hurriyet juga melaporkan dalam pertemuan antara Presiden Erdogan dan sekelompok legislator AKP, beberapa dari mereka terlihat baru menumbuhkan kumis.

Diduga mereka baru menumbuhkan kumis jelang pertemuan dengan Presiden Erdogan tersebut.

Beberapa kalangan di Turki menilai, tren kumis ini menunjukkan bagaimana Presiden Erdogan yang dijuluki “sang pemimpin” oleh pendukungnya, memiliki pengaruh yang begitu kuat.

Pengaruh Presiden Erdogan tak hanya dirasakan para politisi atau para menterinya, pengaruh ini juga dirasakan para birokrat negara meski seharusnya mereka bersikap netral. (bens – sisidunia.com)