Home » News » Awas, Kekerasan Lebih Banyak Menyasar Perempuan Perkotaan

Awas, Kekerasan Lebih Banyak Menyasar Perempuan Perkotaan



Jakarta – Kekerasan terhadap perempuan kerap terjadi. Bahkan, perempuan perkotaan ternyata lebih sering mengalami kekerasan dibandingkan perempuan yang tinggal di desa. Hal ini berdasarkan hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Badan Pusat Statistik.

Awas, Kekerasan Lebih Banyak Menyasar Perempuan Perkotaan

Ilustrasi

“Sebanyak 36,3 persen perempuan di kota mengalami berbagai bentuk kekerasan, baik dari pasangan maupun bukan pasangan angka itu lebih besar dibandingkan perempuan di desa yaitu sebesar 29,8 persen,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta Pusat.

Suhariyanto mengungkapkan, perempuan di kota cenderung lebih sering mengalami kekerasan karena tekanan hidup di kota lebih tinggi, sehingga orang-orang lebih cepat marah dan melampiaskan kemarahan kepada perempuan. Kekerasan yang terjadi pada perempuan meliputi kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dan bukan pasangan.

Dalam survei yang sama, BPS juga menemukan, status pekerjaan memengaruhi terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Suhariyanto menjelaskan, angka prevalensi kekerasan fisik dan atau seksual pada perempuan yang tidak bekerja lebih tinggi dibandingkan pada perempuan yang bekerja, baik pada periode selama hidup maupun 12 bulan terakhir.

“Sekitar 35,1 persen perempuan yang tidak bekerja mengalami kekerasan fisik dan atau seksual selama hidupnya. Sedangkan pada perempuan yang bekerja prevalensi kekerasannya sekitar 32,1 persen untuk periode selama hidup,” kata dia.

Hal ini menurutnya, disebabkan karena perempuan yang tidak bekerja tidak memiliki posisi tawar di mata lelaki. Sehingga, perempuan kerap tergantung pada laki-laki, dan kekerasan seolah menjadi hal yang wajar dan tidak terhindarkan.

Di samping itu, bagi perempuan yang pernah atau sedang menikah, ada beberapa bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan kepada mereka antara lain, kekerasan emosional, ekonomi, fisik dan sosial.

Sekitar 24,5 persen atau satu dari empat perempuan yang pernah atau sedang menikah mengalami kekerasan ekonomi dari pasangannya selama hidupnya, sementara 20,5 persen atau satu dari lima perempuan yang pernah atau sedang menikah mengalami kekerasan psikis dari pasangannya.

Dalam survei ini, kata Suhariyanto, SPHPN 2016 dilaksanakan di tingkat nasional dengan cakupan sampel sebanyak 900 Blok Sensus (BS) yang menyebar di semua daerah Indonesia.

Pada setiap BS dipilih 10 rumah tangga, sehingga jumlah sampel rumah tangga sebanyak 9.000 rumah tangga. Pada rumah tangga sampel dipilih satu orang perempuan usia 15-64 tahun sebagai responden. (bens – sisidunia.com)