Home » Sport » Cari Pekerjaan Sampingan, Lifter Deni Tak Digaji 3 Bulan

Cari Pekerjaan Sampingan, Lifter Deni Tak Digaji 3 Bulan



Jakarta – Lifter Deni terpaksa pulang ke rumah karena tak menerima gaji selama tiga bulan dari Satlak Prima. Demi menafkahi keluarga, ia mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi personal trainer angkat besi.

Cari Pekerjaan Sampingan, Lifter Deni Tak Digaji 3 Bulan

Cari Pekerjaan Sampingan, Lifter Deni Tak Digaji 3 Bulan

“Saya sudah sebulan tidak ikut latihan di Bandung bersama teman-teman alasannya karena sudah tiga bulan tidak digaji. Keluarga saya mau dikasih makan apa,” ujar Deni, Kamis (30/3/2017).

Deni menjadi salah satu atlet yang disiapkan PB PABBSI jelang SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Mereka latihan di Bandung sejak pertengahan Januari lalu.

Tadinya mereka latihan di PP PON Cibubur, tapi tempat latihan yang kurang mumpuni membuat mereka pilih pindah. Sudah begitu, mereka kini juga mengalami uang saku yang terlambat.

“Indonesia tidak ada berubahnya kalau awal tahun. Sedih. Ini sudah mau masuk April, sedangkan Islamic Solidarity Games (ISG) 2017 sudah di depan mata. Kita bukannya ingin apakan pemerintah. Tetapi kami yang sudah berkeluarga sulit juga,” kata dia.

Deni menyatakan pekan lalu PB PABSSI (Persatuan Angkat Besi, Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia) sudah berusaha menalangi sebagian gaji para atlet. Masing-masing atlet diganjar Rp 3 juta, cukup jauh dari gaji yang harusnya mereka terima di kisaran Rp 8 juta. Untuk atlet yang sudah berkeluarga, jumlah itu pun sulit memenuhi kebutuhan.

“Saya terus terang ingin bergabung dengan lifter yang lain, hati juga sudah greget ingin berlatih. Tetapi tidak enak juga karena memikirkan keluarga di rumah,” lanjutnya.

Saat ini, sebut Deni, untuk menutupi kebutuhan keluarganya dia terpaksa mencari pekerjaan sampingan sebagai personal trainer angkat besi di kawasan Sudirman, Jakarta. Dari pekerjaan sampingan ini setidaknya ia digaji Rp 1 juta untuk melatih satu orang secara pribadi. Sedangkan per kelompok setiap orang dipatok Rp 250 ribu.

Baca juga : Medali Pertama Untuk Indonesia di Olimpiade 2016 Datang Dari Cabor Angkat Besi

“Lumayan juga, Tetapi sebenarnya kan kita tidak ingin seperti itu. Tetapi saya tidak punya pilihan karena memang butuh untuk menghidupi keluarga di rumah,” ucapnya.

Deni juga menegaskan dirinya tidak lantas meninggalkan latihan. Walaupun jelas kelelahan, ia masih tetap berusaha menyempatkan diri berlatih sendiri demi menjaga kondisi. Ia pun menerima jika keputusannya ini membuat ia dicoret.

“Latihan masih walau kadang-kadang agak capek karena sudah dikuras dengan menjadi pelatih. Pelatiha saya, Aveenash Pandoo dan bapak Alamsyah, juga sering ingatkan untuk tetap latihan walau sedikit,” tutur Deni.

“Ya, saya bilang ke Bapak Alamsyah, saya terima setiap konsekuensi jika seandainya PB terpaksa mencoret nama saya karena tidak latihan. Saya pikir itu jadi risiko yang saya terima, mungkin belum rezeki,” imbuhnya.

Saat ini Deni cuma berharap agar tersendatnya dana bisa segera teratasi oleh pemerintah mengingat banyaknya ajang multicabang besar di depan mata. Tidak hanya ISG yang akan berlagsung Mei mendatang di Baku, Azerbaijan, tetapi juga SEA Games 2017 Malaysia, dan setelah itu menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

“Ya, biar semua tidak seperti saya, pada pulang, ya cepat dicairkan. Biar pada fokus. ISG sudah di depan mata dan supaya tidak ada pikirin juga untuk yang di rumah, supaya latihan enak. Atlet itu tidak perlu yang istimewa. Jika setiap di buku rekening ada isinya, sudah semangat kita. Mau berapa saja, yang penting saldo nggak seperti tisu,” sebutnya.

Deni juga mengaku tengah menunggu bonus dari KONI Bekasi sebesar Rp 100 juta. Jika bonus cair, dana itu bisa ia sisihkan buat kepentingan keluarga sehingga dirinya kemungkinan bisa kembali fokus latihan di Bandung.

“Insyallah kalau sebulan ini kelas saya keluar saya balik sudah ke sana. Untuk bonus juga, hari ini sudah diverifikasi. Mudah-mudahan bisa cair,” harapnya.
(Muspri-sisidunia.com)