Home » Techno » Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Teknologi Monitoring Udara

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Teknologi Monitoring Udara



Malang – Tiga orang mahasiswa dari Universitas Brawijaya (Unibraw)menciptakan teknologi monitoring udara yang diberi nama SMOQ. Tujuan diciptakannya alat tersebut adalah untuk memudahkan masyarakat dalam pemantauan terhadap udara dikarenakan kualitas udara dapat berpengaruh pada kesehatan masyarakat.

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Teknologi Monitoring Udara

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Teknologi Monitoring Udara

Inovasi karya Renal Prahadis, Muhammad Ulul Albab Iryanto, dan Maulida Sabrina itu merupakan perpaduan antara perangkat lunak dan keras. Perangkat keras terdiri atas alat pendeteksi kondisi udara dan mikrokontroller, sedangkan perangkat lunak dibuat dalam bentuk aplikasi yang dapat dioperasikan pada Android.

Renal menjelaskan, cara kerja alat menggunakan empat macam sensor yang diletakkan di daerah yang ingin diperiksa kualitas udaranya. Kemudian, alat tersebut akan berperan sebagai pendeteksi kulitas udara, kadar asap, karbon monoksida, dan suhu udara.

Input tersebut, lanjut dia, akan disimpan dan dianalisis pada mikrokontroller. Hasilnya lalu dikirimkan ke jaringan internet untuk kemudian dapat diakses melalui aplikasi SMOQ.

Baca juga : Robot Baru Buatan NASA Terinspirasi Dari Origami

“Kalau hasil analisis input data menghasilkan indeks akhir kurang dari 200 maka status kualitas udara normal. Kalau Indeks antara 200 sampai 300 berarti statusnya siaga. Untuk status waspada berarti kualitas udara sangat buruk maka indeks kualitas udara menunjukkan angka lebih dari 300,” paparnya disitat dari laman UB, Rabu (29/3/2016).

Berkat kreativitas para mahasiswa yang tergabung dalam tim Ex Change itu, SMOQ berhasil meraih juara tiga pada kompetisi Multimedia and Game Event (MAGE) 2017 kategori Internet of Things yang diselenggarakan oleh jurusan Teknik Multimedia dan Jaringan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Renal berharap, alat ini bisa digunakan pemerintah untuk pengambilan keputusan atau kebijakan terkait pemeliharaan lingkungan.

“Jadi pemerintah bisa mengetahui daerah mana saja yang memiliki kadar polusi yang tinggi dan mengambil tindakan penyelamatan atau pencegahan,” imbuhnya.
(Muspri-sisidunia.com)