Home » News » Sandiaga : “Buat Apa Menang Kalau Dilakukan Dengan Cara Nakal, Kotor dan Tidak Fair Play”

Sandiaga : “Buat Apa Menang Kalau Dilakukan Dengan Cara Nakal, Kotor dan Tidak Fair Play”



Jakarta – Serangan kampanye hitam yang diarahkan kepada Anies-Sandi kian gencar. Terutama menggunakan informasi yang tidak benar atau hoax jelang pemungutan suara putaran kedua Pilgub DKI Jakarta 2017.

Sandiaga : "Buat Apa Menang Kalau Dilakukan Dengan Cara Nakal, Kotor dan Tidak Fair Play"

Sandiaga Uno

Calon Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno mengibaratkan serangan kampanye hitam oleh para pendukung petahana Ahok-Djarot‎ seperti permainan sepak bola yang tidak lagi fokus pada si kulit bundar.

Sandiaga menyebut, permainan saat ini sudah jauh dari fair play. Pihak lawan mulai main kasar dan kerap melakukan ‘tackling’ brutal.

“Awalnya, saya dan Mas Anies tidak mau menanggapi. Kami merasa tidak punya waktu untuk meladeni permainan kasar (berita hoax dan fitnah) lawan, lagian tidak bermanfaat juga bagi warga. Tapi makin kesini kok mainnya makin brutal ya, mainnya sudah sangat kasar dan serampangan mengarah pada mencederai lawan,” kata Sandi saat jumpa pers di Posko Pemenangan Anies-Sandi, Cicurug, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (27/3/2017).

Dalam pandangan Sandi, demokrasi lokal di ibu kota negara mestinya dijadikan momentum untuk membangun demokrasi yang sehat.

Sehingga semua tahapan prosesnya harus dijaga agar berjalan baik dan lancar tanpa ada upaya merusak citra demokrasi itu sendiri.

“Kita ingin berdemokrasi yang sejuk dan fokus pada ‎program dan gagasan yang baik dan dibutuhkan masyarakat,” katanya.

“Saya pikir, buat apa juga menang kalau dilakukan dengan cara-cara nakal, kotor dan tidak fair play. Ini penontongnya bukan hanya warga ibu kota Jakarta, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia. Bahkan dunia internasional,” terang Sandi.

Karenanya, lanjut Sandi, untuk mengantisipasi dan menjawab semua hoax, pihaknya merasa perlu membentuk ‘Tim Satgas Anti Hoax’. Tim ini khususnya bertugas menangkal hoax di media sosial.

“Tim ini dibentuk setelah beberapa hari belakangan, saya dan kawan-kawan melihat ada semacam suatu gerakan yang menurut kami sangat merugikan Anies-Sandi dan berpotensi menyesatkan masyarakat,” beber Sandi.

“Ada juga selebaran menarik yang seolah-olah mirip dengan program kami, misalnya selebaran 10 kebohongan Anies-Sandi. Tapi alhamdulillah orang yang menyebarkannya kini sudah ditangkap,” ungkap Sandi menambahkan.

(bens – sisidunia.com)