Home » News » Ponsel Anaknya Hilang di Kelas, PNS di Aceh Ancam Pelajar Lain Dengan Pistol

Ponsel Anaknya Hilang di Kelas, PNS di Aceh Ancam Pelajar Lain Dengan Pistol



Aceh – Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), telah melakukan suatu aksi yang tak patut dicontoh. Pasalnya PNS yang berinisial SU (45) ini telah melakukan intimidasi terhadap para murid yang ada di sekolah anaknya.

Ponsel Anaknya Hilang di Kelas, PNS di Aceh Ancam Pelajar Lain Dengan Pistol

Ilustrasi

SU mengancam para pelajar disana dengan gaya koboinya sambil aksi menodongkan senjata didepan mereka. Suasana ruang belajar di kelas 2 SMP I Blangpidie pada hari rabu (22/03/2017) kemarin itupun mendadak menjadi tegang.

“Kalau tidak mengaku akan saya tembak semuanya,” kata perempuan paruh baya itu.

Aksi pegawai Dinas Perhubungan tersebut, disebabkan handphone anaknya hilang. Berbekal senjata jenis softgun di tangan, SU memaksa siswa mengaku dan mengembalikan barang anaknya yang hilang.

Dia bahkan sempat mengeluarkan tembakan ke arah jendela, namun hanya angin keluar, senjatanya tak berisi. Walau telah mengancam, tak satupun siswa yang memberikan informasi.

Amarahnya memuncak, warga Kecamatan Susoh itu lantas mengeluarkan alat getar kejut, menyerupai senter. Emosinya, kian tak terkendali. Dia menempelkan alat itu ke kepala seorang siswa. Di dalam tasnya, belakangan juga diketahui ada senjata tajam jenis kampak.

“Setelah rapat dewan guru dan komite sekolah, kami sepakat bahwa aksi itu adalah kriminal dan sudah direncanakan,” kata Wakil Kepala Sekolah SMP I Blangpidie, Bustaman, SPd, Kamis (23/03/2017).

Baca juga : Pelaku Teror Bom di Magelang Ternyata Ketua RT

Menurutnya, aksi koboy PNS itu terjadi beberapa hari lalu, sehari setelah handphone anaknya IF, 14, hilang. Informasi yang diperolehnya, handphone hilang saat dicas di sudut ruangan kelas.

Di sisi lain, sekolah juga melarang siswa membawa handphone. Pihak sekolah berjanji akan mengembalikan bila ditemukan, namun saat siswa bersangkutan tamat.

Tak terima keputusan itu, penyebab SU mengamuk keesokannya. “Siapa yang ambil HP anak saya. Kalau tidak mengaku akan saya tembak. Sambil mengangkat senjata yang dikeluarkan dari dalam tasnya,” cerita Bustaman.

Bustaman yang datang kemudian menasehati SU agar persoalan diselesaikan di dalam ruang dewan guru. Namun SU tetap bersikeras agar HP anaknya ditemukan. Takut kegaduhan semakin parah, Bustaman melapor ke Polsek Blangpidie.

Sementara guru lainnya, melapor ke Satlantas yang hanya berjarak sekitar 300 meter. Saat anggota Satlantas dan Polsek Blangpidie turun, seluruh barang bukti yang ada di tangannya itu di sita lalu dibawa ke Polsek.
(Muspri-sisidunia.com)