Home » Ekonomi & Bisnis » Kreasi Limbah Kayu Jadi Kacamata, Pemuda Ini Raih Rp9 Juta/Bulan

Kreasi Limbah Kayu Jadi Kacamata, Pemuda Ini Raih Rp9 Juta/Bulan



Jombang – Baru-baru ini bisnis kacamata gaya yang terbuat dari kayu mulai terdengar gaungnya. Berbeda dari biasanya, kacamata dengan bingkai kayu bentuknya lebih artistik.

Kreasi Limbah Kayu Jadi Kacamata, Pemuda Ini Raih Rp9 Juta/Bulan

Kacamata Kayu

Oleh karena itu, banyak orang yang mulai berburu kacamata kayu sebagai pelengkap nilai plus dari sebuah fashion. Pasar yang dapat dijangkau oleh kacamata kayu pun luas, mulai dari anak-anak sampai dewasa.

Seperti bisnis kacamata milik seorang pemuda yang berasal dari Jombang satu ini. Meski hanya menggunakan bahan limbah dan baru satu tahun produksi, namun pasar kacamata kayu buatan warga jombang ini ternyata cepat meluas hingga tembus ke luar negeri.

Di tangan kreatif yang membuatnya adalah Rana Ragista (28), seorang pemuda di desa Godong, kecamatan Gudo, kabupaten Jombang, Jawa Timur. Rana mengaku membuat bingkai kacamata dari kayu ini bermula dari tidak sengaja.

Awalnya, ia hanya mencoba-coba membuat mainan kacamata dari kayu untuk dirinya sendiri. Namun setelah diproses sedemikian rupa, hasilnya ternyata cukup menawan, sehingga banyak orang yang kemudian datang dan memesan kacamata dengan bingkai kayu tersebut.

Uniknya, untuk memproduksinya, pemuda lulusan teknik sipil dari salah satu perguruan tinggi di Jombang ini tidak menggunakan kayu berharga mahal, tetapi hanya menggunakan kayu-kayu limbah yang ia beli dengan harga murah dari beberapa pabrik pengolahan kayu yang ada di Jombang.

Baca juga : Warga Desa Donggaozhuang Berpenghasialan Dari Berjualan Benang Online

Bahkan setelah satu tahun berjalan dan diunggah ke sosial media, pesanan ternyata datang tak hanya dari dalam negeri, tetapi juga makin meluas hingga dari luar negeri, seperti Hongkong, Ghana, hingga Amerika.

Meski berbahan kayu limbah, namun untuk menjaga kualitas ternyata tidak semua jenis kayu yang dipakai rana, tetapi khusus limbah kayu jenis sono keling. Alasannya, jika di proses sedemikian rupa, dari kayu sono keling ini akan muncul guratan kayunya sehingga tampak sangat artistik tanpa perlu pewarna atau diplitur. Nilai seninya benar-benar muncul dari dasar kayunya itu sendiri.

Karena prosesnya yang alami dan butuh waktu lama dalam membuatnya, tak heran harga kacamata berbingkai kayu kualitas ekspor ini jauh lebih mahal dari harga kacamata biasa di pasaran. Paling murah seharga Rp600 ribu sedangkan yang paling mahal bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta tergantung tingkat kerumitan dari bentuk kacamata yang diinginkan pesanan.

Karena rumitnya proses memproduksi dan hanya dikerjakan berdua dengan seorang karyawannya, dalam sebulan Rana hanya mampu memproduksi tak lebih dari 60 kacamata. Meski demikian, Rana mengaku bersyukur karena para pelanggan dari dalam maupun luar negeri mengaku sangat puas dengan karyanya sehingga ia mampu meraup omset rata-rata Rp7 hingga Rp9 juta per bulannya.
(Muspri-sisidunia.com)