Home » News » Djarot Minta Tak Ada Lagi Pihak Yang Mengejar Kekuasaan Dengan Cara Mengeksploitasi Agama

Djarot Minta Tak Ada Lagi Pihak Yang Mengejar Kekuasaan Dengan Cara Mengeksploitasi Agama



Jakarta – Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat berharap, pemanfaatan agama untuk mengejar kekuasaan tidak dilakukan oleh pihak mana pun.

Djarot Minta Tak Ada Lagi Pihak Yang Mengejar Kekuasaan Dengan Cara Mengeksploitasi Agama

Djarot Saiful Hidayat

Ia menyampaikan hal tersebut saat menanggapi adanya penolakan terhadap kedatangannya ke acara zikir bersama untuk memperingati haul Presiden kedua RI, Soeharto, dan Supersemar di Masjid At Tin, Kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Baca juga : Gadis 14 Tahun di Pekanbaru Diduga Telah Ditawarkan Pada 4 Pria Hidung Belang

“Sekali lagi untuk masalah seperti ini jauhkanlah yang mengeksploitasi atau yang menggunakan agama hanya demi mendapatkan kekuasaan. Saya pikir stop,” kata Djarot di Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (14/3/2017).

Saat datang ke Masjid At Tin pada Sabtu kemarin, Djarot sempat dihalangi ketika akan masuk ke lokasi acara. Namun ia tetap bisa masuk dan mengikuti acara tersebut.

Selain itu, saat akan meninggalkan lokasi seusai acara, Djarot sempat disoraki sebagian orang. Djarot mengaku tindakan orang-orang yang menghalangi dan menyorakinya itu sangat tidak baik dan berbahaya.

Menurutnya, tindakan itu dapat memecah belah masyarakat. Tidak hanya di ruang lingkup Jakarta, tetapi juga di Indonesia.

Untuk mencegah hal serupa terulang, ia menilai aparat perlu megambil tindakan tegas.

“Jangan sampai terulang, terjadi lagi, termasuk pemasangan spanduk-spanduk yang provokatif, stop. Bahwa ini akan bisa sekali lagi memecah belah masyarakat di Indonesia. Ingat lho ini di Jakarta, ditonton, dilihat seluruh warga di Indonesia, termasuk warga dunia,” kata Djarot.

Ia juga menilai, masyarakat seharusnya diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan hati nuraninya masing-masing dalam berdemokrasi.

“Maaf ya, saya mengambil istilah Buya Syafi’i Maarif yang kemarin itu tindakan yang primitif dan menghalalkan segala cara untuk memainkan simbol-simbol agama dalam rangka meraih kekuasaan,” ujar Djarot.

(bens – sisidunia.com)