Home » News » Bejat, Guru di Kalimantan Barat Tega Cabuli 3 Siswi SD

Bejat, Guru di Kalimantan Barat Tega Cabuli 3 Siswi SD



Sambas – Nama dunia pendidikan di Kalimantan Barat sudah tercoreng akibat ulah tak terpuji dari salah satu guru bernama Mursidi (54). Mursidi ditangkap petugas Polsek Sambas lantaran telah melakukan perbuatan asusila terhadap tiga bocah yang merupakan anak didiknya.

Bejat, Guru di Kalimantan Barat Tega Cabuli 3 Siswi SD

Ilustrasi

Ketiga bocah tersebut merupakan siswi kelas satu di SDN 3 Sempalai, Desa Sempalai, Kecamatan Sebawi, Sambas. Nama ketiga bocah yang menjadi korban Mursidi adalah UP (8), MN (7), dan MT (7).

Kapolsek Sambas AKP Agus Riyanto mengungkapkan, Mursidi telah beberapa kali melakukan tindakan tak terpuji selama 2017.

“Kami terus mengembangkan kasus ini, mencari kemungkinan adanya korban lainnya selain ketiga anak itu,” kata Agus, Selasa (21/03/2017).

Dia menambahkan, kasus itu terbongkar ketika MT mengeluh kesakitan saat buang air kecil.

“Senin (13/03/2017) sekitar pukul 10:00, Uray Rasikin mendapat informasi dari KSF (orang tua korban) bahwa anaknya telah dicabuli oleh Mursidi. Pada hari Rabu (15/03/2017) sekitar pukul 10:30, Uray Rasikin ingin memastikan kejadian tersebut. Uray Rasikin langsung mendatangi Mursidi yang sedang berada di kantor desa untuk mediasi perbuatan cabul tersebut,” ungkap Agus.

Di Kantor Desa Sempalai, Mursidi mengakui perbuatannya. Orang tua korban tidak terima sehingga langsung melaporkan Mursidi ke kantor polisi.

Baca juga : Pria Yang Membawa Lari Gadis 16 Tahun Ditetapkan Sebagai Tersangka

“Mursidi melakukan tindak cabulnya di salah satu ruang kelas saat membimbing belajar muridnya tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, hubungan Mursidi dengan sang istri sebenarnya tak ada masalah.

“Tersangka masih melakukan hubungan suami istri dengan istrinya. Kami akan mengecek dan melakukan tes terhadap psikologi dari tersangka,” jelas Agus.

Mursidi dijerat Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dia juga dijerat pasal 82 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman minimal lima tahun dan maksimal 15 tahun penjara.

“Untuk menagani kasus ini, kami akan bekerja maksimal. Karena sedikit banyak akan berhubungan dengan birokrasi, mengingat statusnya sebagai PNS,” tutur Agus.
(Muspri-sisidunia.com)