Home » News » Ibu Pelaku Sodomi 42 Anak Hanya Pasrah Menunggu Kepastiam Hukum

Ibu Pelaku Sodomi 42 Anak Hanya Pasrah Menunggu Kepastiam Hukum



Jakarta – SH (57) ibu kandung Samsul Anwar Harahap (35) pelaku sodomi terhadap 42 orang anak yang masih di bawah umur, hanya bisa pasrah menunggu kepastian hukum yang akan ditanggung oleh anak pertamanya tersebut. Dia berharap agar penegak hukum tidak menjatuhkan hukuman kebiri.

Ibu Pelaku Sodomi 42 Anak Hanya Pasrah Menunggu Kepastiam Hukum

Gambar ilustrasi

Tangis perempuan yang sudah berstatus janda tersebut langsung terdengar ketika Okezone menjumpainya di Desa Janji Manaon, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, saat mendapatkan kabar bahwa, Samsul sudah ditahan di Mapolres Tapanuli Selatan (Tapsel).

Rasa Haru, malu, benci terucap dari bibir perempuan anak 6 tersebut. Dia juga bangga terhadap Samsul karena sudah mau bertanggung-jawab terhadap semua perbuatan melanggar hukum yang sudah dilakukannya. Saat pertama menghampir rumahnya, perempuan yang seharinya bekerja sebagai penjual kue tersebut sedang mendirikan Salat Zuhur. Dia terlihat begitu kusuk berdoa ketika akan menyelesaikan ibadahnya.

Di rumah semi permanen yang berukuran panjang 5 meter dengan lebar 3 meter, dia tinggal bersama dengan sejumlah anak-anaknya. Tak ada yang istimewa dilihat di rumah tersebut, karena memang mereka dari keluarga kurang mampu.

”Intinya, berapa tahun hukuman yang akan dijalani oleh Samsul saya akan terima, namun saya berharap jangan dikebiri,” ujarnya ketika ditemui.

Dia mendukung proses hukum yang sudah dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap anaknya itu. Salah satu buktinya, dia berusaha untuk menghubungi Samsul saat melarikan diri dari kampung halamannya.

”Saat itu, saya menyuruh dia pulang dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya kepada penegak hukum dan Allah, karena tindakan itu sudah dilarang baik dari ajaran agama maupun hukum negara,” ujarnya.

Dia mengatakan, dia menolak hukum kebiri diberlakukan kepada anak pertamanya tersebut dengan alasan akan sulit bagi Samsul untuk memiliki masa depan layaknya seperti anak laki-laki yang seusia dia. ”Sebagai seorang ibu, tentunya saya berkeinginan agar dia juga mempunyai masa depan,” tuturnya.

Namun, dia meminta kepada Samsul agar merubah semua perilakunya selama ini, karena sudah melanggar hukum dan membuat malu anggota keluarga.

Diceritakannya, keseharian Samsul bekerja sebagai juru timbang getah. Dari hasil pekerjaanya tersebut, dia bisa membantu ekonomi keluarga. Bagaimana tidak, sejak orangtua laki-lakinya meninggal dunia, maka tulang punggung keluarga dibebankan kepada Samsul dan dia.

”Dua orang adeknya masih sekolah, hanya dia yang bisa membantu ekonomi keluarga,” tuturnya.

Kesehariannya, Samsul tidak pernah mempunyai sifat yang mencurigakan. Sebab, dia bergaul layaknya laki-laki normal.

“Saya tidak pernah tau dia punya pribadi seperti itu, karena sehari-hari, dia tidak pernah menunjukkan sikap yang aneh,” tuturnya.

(bens – sisidunia.com)