Home » Hiburan » Beauty And The Beast Live-action Lebih Bagus Dari Versi Animasi Klasiknya

Beauty And The Beast Live-action Lebih Bagus Dari Versi Animasi Klasiknya



Jakarta – Baru saja Beauty and the Beast diluncurkan di bioskop-bioskop di Indonesia. Dengan membawa cerita lama namun dengan versi live-action, Beauty and the Beast akan membawa nostalgia kepada para penontonnya.

Beauty And The Beast Live-action Lebih Bagus Dari Versi Animasi Klasiknya

Beauty And The Beast

Pertanyaannya saat ini adalah apakah perlu kisah Beauty and the Beast kembali diangkat ke layar lebar? Apakah Disney kehabisan ide untuk membuat sebuah film live-action? Atau seberapa layak Beauty and the Beast disebut sebagai film live-action terbaik mengalahkan The Jungle Book?

Brian Truitt dari USA Today menilai “Inilah sihir terbaru dari Disney: Beauty and the Beast baru sebetulnya lebih bagus dari versi animasi klasiknya. Tidak seperti The Jungle Book tahun lalu, Beauty and the Beast mengawinkan tontonan visual dan desain karya yang mewah dengan cerita yang lebih baik dari sebelumnya, menyajikan sebuah mantra kepada para penggemar lama dan penggemar barunya.”

Emily Yoshida dari Vulture menyebut “Emma Watson menjadi sorotan utama di sini, secara fisik tidak ada yang lebih pas selain dirinya. Namun seseorang seharusnya melakukan tes layar terlebih dahulu sebelum dia menandatangani kontrak – terutama dengan tes green screen. Ada beberapa aktor yang dapat menyulap dunia di sekitar mereka hanya dengan tata panggung kosong dan membuat kita percaya itu hanya dengan pandangan mata; Watson bukan satu diantara aktor tersebut.”

Sementara itu Chris Nashawaty dari Entertainment Weekly mengatakan “Beauty and the Beast adalah sebuah film yang tidak bisa mencari tahu apa yang ingin disampaikan dari apa yang tidak tersampaikan pada tahun 1991 lalu. Film ini bagus dan lucu dan manis dan beberapa lagunya sangat mudah menempel, namun saya masih belum mengerti sepenuhnya mengapa film ini ada – dan mengapa mereka tidak bisa berbuat lebih dengan film ini. Lebih dari film atau taman bermain, Disney selalu berusaha untuk menjual sihirnya. Saya berharap ada sedikit yang lebih dari Beauty and the Beast ini.”

A. O. Scott dari The New York Times mengatakan “Film live-action/digital hybrid ini lebih dari sekadar sebuah kebangkitan dari kartun orang-orang berusia 26 tahun, dan lebih dari sekadar sebuah perjalanan berharga untuk kembali ke budaya pop tentang dongeng. Klasikismenya terasa tidak dipaksakan dan segar. Ada beberapa momen di mana efek digital menunjukkan kemampuannya, dan Anda menyadari kehadiran barisan kode garis yang ada di belakang gambar. Namun secara keseluruhan, para penggemar akan merasa ‘tertipu bahagia’. Lebih dari itu: terpesona.”

(bens – sisidunia.com)