Home » Techno » Picmix Seolah Dapat ‘Tamparan’ Saat Berguru ke Markas Google

Picmix Seolah Dapat ‘Tamparan’ Saat Berguru ke Markas Google



Jakarta – Aplikasi media sosial dan edit foto Picmix merupakan salah satu startup lulusan Program Launchpad Accelerator yang diselenggarakan oleh Google. Usai berguru di markas Google tersebut, setiap lulusan pasti menyisakan beragam kisah yang menarik, termasuk bagi Picmix.

Picmix Seolah Dapat 'Tamparan' Saat Berguru ke Markas Google

Sandy Colondam

Di acara media gathering Launchpad Accelerator di The Hook, Kamis (16/3/2017), Head of Strategy and Product PicMix Sandy Colondam menceritakan kesannya mengikuti bootcamp selama dua minggu di markas Google, di Mountain View, California, Amerika Serikat.

Dikatakannya, dengan jumlah pengguna layanan di angka 30 juta, bukan berarti PicMix tidak punya masalah. Justru di Launchpad Accelerator lah, mereka diingatkan agar tidak berpuas diri dan selalu memikirkan cara untuk berkembang.

“Basically itu menampar kita. Yang kalian rasa itu benar, ternyata belum benar. Mereka advice harusnya kalian begini dan begini. Itu seperti tamparan keras buat kita. Dan mentoring itu gak cuma selama Launchpad Accelerator. Setelah itu kita terus di-follow up bagaimana perkembangannya,” paparnya.

Borrys Hasian, salah satu Google Expert di bidang UX/UI yang menjadi mentor Launchpad Acelerator membenarkan ucapan Sandy. Menurutnya, sebagai mentor, memang sudah menjadi tugasnya untuk ‘menampar’, dalam arti mengingatkan startup yang dimentorinya.

Baca juga : Pengguna Akan Lebih Mudah Verifikasi reCAPTCHA

“Jangan sampai mereka udah ngerasa mature di market lokal, lalu lupa berkembang. Launchpad Accelerator ini kan kita pilih-pilih startup. Mereka sudah punya ingredients yang bagus, maka kita membantu untuk mengolahnya,” sebut Borrys.

Dikatakannya, ada banyak hal harus dipertahankan dan terus dijaga oleh startup agar terus berkelanjutan. “Selain harus mengenal user dengan baik, selalu data driven, juga harus mempertimbangkan UI dan UX,” sebutnya.

Ada satu ‘penyakit’ yang menurutnya kerap diidap startup. Yakni ketika ditanya, siapa pengguna layanannya, kebanyakan startup akan menjawab bahwa layanannya adalah untuk semua pengguna.

“Mindset ‘untuk semua user’ ini harus diubah. Tanyakan pada diri sendiri dulu usernya siapa, problemnya apa, divalidasi idenya, baru kita solved. Jadi mindsetnya kita ubah, dari user-nya dulu baru ke produknya,” jelasnya.

Sandy sendiri mengaku, menyempurnakan aplikasi menjadi tantangan tersendiri bagi setiap startup. “Behavior user itu suka nyoba-nyoba dulu, tendensinya kalo gak suka, uninstal. Harapannya, kita ingin user ketika sudah coba, mereka tetap pakai aplikasi itu,” ujarnya.

Borrys pun mengingatkan bahwa desain sebuah aplikasi tak cuma bicara soal tampilan, tetapi bisa menyelesaikan masalah dari sisi user. “Jadi kalo bicara desain gak akan pernah sempurna, selalu ada yang bisa di-improve. Startup Indonesia secara visual desainnya bagus-bagus, experience-nya aja yang harus di-improve,” sarannya.
(Muspri-sisidunia.com)