Home » News » Dampak Negatif Dibalik Skip Challenge

Dampak Negatif Dibalik Skip Challenge



Jakarta – Belakangan ini, sedang viral skip challenge dan pass out challenge, di mana seseorang sengaja ditekan pada bagian dada untuk tidak bernapas dalam waktu beberapa detik. Di balik tantangan tersebut, dokter mengingatkan risiko yang bisa terjadi.

Dampak Negatif Dibalik Skip Challenge

Skip Challenge

Dijelaskan dr Nastiti Kaswandani SpA(K), Ketua UKK Respirologi PP IDAI, pada prinsipnya ketika dada seseorang ditekan sampai tidak bisa bernapas, itu adalah upaya untuk membuat aliran oksigen ke saluran napas terhambat.

Baca juga : Bawa 11 Kg Ganja Dikemas Dalam Kardus Mie Instan, Pemuda Asal Aceh Ini Ditangkap

“Orang itu dalam kondisi kekurangan oksigen atau hipoksia, itu berbahaya. Jadi orang itu bisa berada dalam kondisi hipoksi hanya sekian detik saja,” kata dr Nastiti kepada wartawan, Jumat (10/3/2017).

Jika seseorang kekurangan oksigen dalam waktu lama, ada sel-sel yang kekurangan oksigen, rusak, dan tidak bisa diperbaiki. Contohnya sel otak.

“Jadi sangat tidak direkomendasikanlah melakukan hal-hal seperti itu,” ujar dr Nastiti.

Ketika pasokan oksigen ke sel-sel otak berkurang terutama jika jangkauannya cukup luas, bisa menimbulkan gejala seperti stroke. Atau yang paling jelas potensinya, kata dr Nastiti yakni kemampuan kognitif yang bersangkutan bisa terganggu.

Ketika seseorang seperti kejang setelah ia tak bisa bernapas, menurut dr Nastiti itu bisa terjadi karena lagi-lagi, tubuh kekurangan oksigen. Terlebih, dalam kondisi kejang maka aliran darah yang mengandung oksigen, ke otak pun akan terhambat.

“Kalau setelah melakukan itu dia bisa bangun lagi dan segar lagi, itu berarti sengaja dibikin kekurangan oksigen dalam waktu tidak terlalu lama. Sama dengan kalau kita nahan napas saat nyelam, setelah kita ke permukaan air kan tubuh jadi terasa enak,” tambah dr Nastiti.

Namun, ia menegaskan untuk tidak ikut-ikut tantangan seperti ini. Sebab, jika kebablasan, potensi kekurangan oksigen lebih banyak hingga lebih banyak sel yang rusak pun lebih besar.

(bens – sisidunia.com)