Home » News » Kampanye Negatif Mulai Muncul, Anies Merasakan Kepanikan Lawan

Kampanye Negatif Mulai Muncul, Anies Merasakan Kepanikan Lawan



Jakarta – Cagub DKI Jakarta Anies Rasyid Bawedan mendapat kesempatan untuk memberi sambutan pada acara deklarasi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DKI Jakarta. Pada kesempatan itu, Anies juga menanggapi terkait maraknya kemunculan kampanye negatif baru-baru ini.

Kampanye Negatif Mulai Muncul, Anies Merasakan Kepanikan Lawan

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno

“Dibilang katanya KJP kalau ganti gubernur KJPnya berhenti, PPSU berhenti, KJS berhenti, saya mau tanya, kalau gubernur ganti listrik mati nggak? Air mati nggak? Bis berhenti nggak? Kelurahan tutup? Kecamatan tutup? kenapa KJP berhenti? Jadi insya Allah bukan hanya diteruskan, ditingkatkan KJPnya menjadi KJP plus,” ujar Anies kepada warga yang menghadiri deklarasi PPP di Kantor Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PPP DKI Jakarta, Jalan I Gusti Ngurah Rai No. 164, Buaran II, Klender Jakarta Timur, Minggu (12/3/2017).

Anies mengajak warga untuk berjuang memenangkan Pilgub DKI putaran kedua. Hal itu dengan niat membawa perubahan bagi warga Jakarta dan untuk kemenangan warga Jakarta.

Baca juga : Anies Dilaporkan ke KPK, Wakil Tim Pemenangan Anies-Sandi Minta Tim Hukum Laporkan Balik Pelapor

“Kalau kampanyenya sudah negatif, kampanyenya ada kebohongan, tanda-tanda kepanikan sudah mulai muncul di sana. Dan bapak ibu semuanya, kami yakin sekali bahwa yang diniatkan adalah perubahan untuk kebaikan warga Jakarta,” ujar Anies.

“Karena itu kami berdua berharap kerja bersama ini benar-benar kita tuntaskan. Kita ingin 19 April besok tiga-tiganya dapat, satu kita ingin jujur Pilkadanya, jujur jangan ada minipulasi, jangan ada intervensi,” sambung Anies.

Anies berharap Pilgub DKI dapat berjalan dengan demokratis. Pilgub juga harus berjalan dengan adil. Hal ini ditunjukkan dengan netralnya aparat pemerintahan dalam mengawal proses Pilgub DKI putaran kedua.

“Demokratis artinya yang berhak tidak boleh dihilangkan haknya. Tidak boleh mereka dilarang untuk nyoblos, mereka harus bisa nyoblos. Tapi juga yang nggak berhak jangan ikut-ikutan nyoblos, demokratis artinya yang berhak diberi, yang nggak berhak jangan masuk,” pungkas Anies.
(Muspri-sisidunia.com)