Home » News » Peringati Hari Perempuan Internasional, Komnas Perempuan Keluarkan Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan Sepanjang 2016

Peringati Hari Perempuan Internasional, Komnas Perempuan Keluarkan Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan Sepanjang 2016



Jakarta – Peringatan Hari Perempuan Internasional jatuh pada hari rabu (08/03/2017) kemarin. Untuk memperingati hari tersebut, Komnas Perempuan mengeluarkan catatan jumlah tindakan kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2016 lalu.

Peringati Hari Perempuan Internasional, Komnas Perempuan Keluarkan Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan Sepanjang 2016

Diskusi peringatah Hari Perempuan Internasional

Komnas Perempuan mencatat jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 259.150 kasus. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi.

Di ranah personal, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menempati peringkat pertama dengan 5.784 kasus.

Disusul kekerasan dalam pacaran 2.171 kasus, kekerasan terhadap anak perempuan 1.799 kasus.

Kekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik 42 persen, kekerasan seksual 34 persen, kekerasan psikis 14 persen. Sisanya, terjadi kekerasan ekonomi.

Wakil Ketua Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah mengatakan, dari catatan tersebut, kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi selama 2016 cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski demikian, dari sisi realitas, belum bisa disimpulkan bahwa fenomena kekerasan terhadap perempuan juga menurun. Yuniyanti meyakini masih banyak kasus yang tidak dilaporkan. Dari fakta yang ada, kasus kekerasan terhadap perempuan masih terus berulang.

Menurut Yuniyanti, sebagian besar kasus kekerasan terjadi karena adanya budaya patriarki yang masih kental di masyarakat.

Budaya patriarki menempatkan posisi sosial kaum laki-laki lebih tinggi daripada kaum perempuan. Sehingga, masyarakat cenderung menganggap wajar adanya perilaku pelecehan terhadap perempuan dalam bentuk sekecil apa pun.

Baca juga : Peringatan Hari Perempuan Sedunia, Peran Perempuan Dalam Berdemokrasi

Bahkan, seringkali perempuan yang menjadi korban pelecehan justru disalahkan, misalnya karena berpakaian yang tak sesuai norma kesopanan.

“Perempuan yang mengalami kekerasan itu kan sebenarnya merupakan korban dari sistem patriarki,” ujar Yuniyanti, saat ditemui di Kantor Komnas Perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (09/03/2017).

Yuniyanti juga menambahkan bahwa keadaan tersebut kemudian diperparah dengan adanya regulasi atau peraturan perundang-undangan yang mendiskriminasi kaum perempuan dan menyuburkan budaya patriarki.
(Muspri-sisidunia.com)