Home » News » Terdakwa Pembuat Vaksin Palsu Dituntut 12 Tahun Penjara

Terdakwa Pembuat Vaksin Palsu Dituntut 12 Tahun Penjara



Jakarta – Pasangan suami-istri terdakwa kasus vaksin palsu, Hidayat Taufiqurroham dan Rita Agustina didakwa memproduksi lima jenis vaksin palsu sejak 2010 hingga Juni 2016 di rumahnya di Perumahan Kemang Pratama Regency, Jalan Kumala II Blok M29 RT 9 RW 35, Rawalumbu, Kota Bekasi.

Terdakwa Pembuat Vaksin Palsu Dituntut 12 Tahun Penjara

Tersangka pembuat vaksin palsu, Hidayat Taufiqurroham dan Rita Agustina

Adapun, vaksin yang dipalsukan ialah jenis Pediacel, Tripacel, Engerix B, Havrix 720, dan Tuberculin. Keduanya ditangkap oleh aparat Bareskrim Mabes Polri pada bulan Juni 2016 di rumahnya, penyidik lalu menyita barang bukti berupa vaksin yang dipalsukan.

Oleh karena itu, Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Bekasi, Andi Adikawira mengatakan, terdakwa Rita dan Hidayat dituntut 12 tahun karena dianggap dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar.
Sebagaimana dakwaan primer melanggar pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan juncto pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa masing-masing dengan pidana penjara selama 12 tahun, dan denda masing-masing Rp 300 juta subsider enam bulan hukuman penjara,” katanya.

Ia mengatakan, tuntutan sesuai dengan pertimbangan jaksa yang telah menghadirkan saksi-saksi untuk mengungkap fakta persidangan yang digelar sebelumnya. Diantaranya saksi dari kepolisian, Badan POM, Kemenkes, Ahli Pidana, PT. Biomarma, PT. Aventis, GSK, perusahaan swasta, dan sejumlah terdakwa yang menjadi saksi.

Setelah mendengar vonis hukumnannya yang dibacakan oleh Jaksa, Rita Agustina langsung menangis secara histeris. Rita saat itu mengenakan kemeja berwarna putih dan memakai kerudung hitam.

Baca juga : Seorang Dokter Menjadi Pelampiasan Emosi Orang Tua Korban Vaksin Palsu

Suami Rita, yang sama-sama duduk di pesakitan berusaha menenangkannya, lalu menyalami majelis hakim yang diketuai oleh Merver Pandiangan. Ketika bersalaman, terdengar suara Rita meminta ampun.

Rita semakin histeris begitu keluar dari ruang sidang Tirta II di lantai dua. Bahkan, Rita nyaris pingsan ketika menuruni tangga. Rita terus menangis sambil duduk di tangga di pelukan suaminya. Sejumlah jaksa terus meminta agar Rita istighfar.

“Astaghfirullahaladzim, begitu besar cobaan saya,” ucap Rita sesenggukan usai sidang, Senin, 6 Maret 2017. Rita juga berkali-kali memohon ampun, sebab anak-anaknya masih kecil. Rita khawatir anaknya besar tanpa kedua orang tuanya jika dipenjara nanti sesuai dengan tuntutan jaksa.

Sambil ditenangkan, Rita kemudian dituntun suami beserta jaksa dibawa ke ruang transit tahanan di lantai dasar Pengadilan Negeri Bekasi. Kedua pasangan suami-istri yang tak didampingi oleh penasehat hukum tersebut diminta oleh ketua majelis hakim menyiapkan nota pembelaan atas tuntutan tersebut untuk sidang pekan depan.
(Muspri-sisidunia.com)