Home » News » Berupaya Perbaikan Habitat, BKSDA Evakuasi Orangutan Peliharaan

Berupaya Perbaikan Habitat, BKSDA Evakuasi Orangutan Peliharaan



Pontianak – Orang utan berjenis kelamin jantan dengan perkiraan usia 3 tahun yang dipelihara warga di Kabupaten Sintang ini telah berhasil dievakuasi oleh Satuan tim Gugus Tugas Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Seksi Konservasi Wilayah II Sintang pada hari sabtu (04/03/2017) kemarin. Oleh pemiliknya, orang utan tersebut diberi nama Andiki.

Berupaya Perbaikan Habitat, BKSDA Evakuasi Orangutan Peliharaan

Tim BKSDA evakuasi orang utan yang dipelihara warga

Kepala BKSDA Kalbar Margo Utomo mengatakan, berdasarkan keterangan pemilik nya, orangutan tersebut diperoleh orangtuanya dengan cara membeli dari warga saat sedang makan di Simpang Pinoh, Makong, Kabupaten Sintang.

“Sang pemilik mengaku baru satu bulan ini memelihara dan merawat orangutan tersebut,” ujar Margo(4/3/2017).

Margo menambahkan, keberadaan orangutan tersebut awalnya berdasarkan dari informasi yang diterima tim TSL SKW II Sintang yang ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan kebenaran informasi tersebut.

Petugas kemudian melakukan pendekatan dan sosialisasi tentang peraturan yang berlaku yaitu UU no 5 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta PP no. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa kepada pemilik.

“Setelah melakukan pendekatan persuasif dengan pemelihara, petugas kemudian mengevakuasi primata tersebut bekerja sama dengan Sintang Orangutan Center (SOC),” ujarnya.

Baca juga : Kebun Binatang Mini: Terdapat Satwa Langka Yang Dilindungi, Tapi Tak Layak Kondisinya

Saat ini orangutan tersebut dititipkan untuk menjalani rehabilitasi di SOC Sintang sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat nya.

Margo mengatakan, kekayaan alam Indonesia harus dijaga. Upaya pemanfaatan alam, kata dia, harus dibarengi dengan upaya pelestarian yang sepadan. Upaya tersebut melalui perlindungan, penangkaran, dan perbaikan habitat.

“Oleh karena itu, tindakan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar dan kepemilikan satwa liar yang dilindungi undang-undang untuk kesenangan harus bisa dihentikan,” ucap Margo.
(Muspri-sisidunia.com)