Home » News » 27 Pelajar Palangka Raya Diciduk BNNP Usai Konsumsi Pil Haram dan Berhubungan Badan di Dekat Tempat Sampah

27 Pelajar Palangka Raya Diciduk BNNP Usai Konsumsi Pil Haram dan Berhubungan Badan di Dekat Tempat Sampah



Palangka Raya – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Tengah telah menangkap sebanyak 27 anak pelajar sekolah menengah pertama (SMP) pada hari selasa (28/02/2017) lalu. Pala pelajar tersebut di tangkap lantaran diduga telah mengkonsumsi minuman keras dan pil zenith.

27 Pelajar Palangka Raya Diciduk BNNP Usai Konsumsi Pil Haram dan Berhubungan Badan di Dekat Tempat Sampah

Ilustrasi

Dari 27 pelajar itu, tujuh di antaranya adalah pelajar putri. Mereka langsung digelandang ke Kantor BNNP di Jalan Tangkasiang Palangka Raya.

Saat diwawancarai, mereka mengaku memiliki alasan tersendiri sehingga menjadi penikmat zenith. Salah satu pelajar putra mengaku dipengaruhi temannya, Zudir (30).

Dia mengaku merupakan korban peristiwa yang terjadi di Jalan Mendawai pada akhir Januari lalu. Kala itu, dia dicekoki zenith oleh Zudir yang merupakan tersangka pemerkosaan. Sedangkan Zudir sudah ditangkap pihak berwajib pada 30 Januari lalu.

“Saya ingat waktu itu teman saya mengajak pacarnya nongkrong. Setelah itu datang Zudir. Dia memabuki kami dengan zenith. Setelah mabuk, dia membawa pacar teman saya dan habis itu main (berhubungan badan) dekat tempat sampah di Jalan Mendawai,” kata pelajar itu.

Sementara itu, beberapa pelajar putri juga mengaku pernah mengonsumsi zenith.

Namun, mereka beralibi sudah tidak lagi menjadi penikmat barang haram itu.

“Bisa menggunakan (zenith) sejak kelas VII. Waktu itu juga ditawarin teman. Diberi gratis. Kalau sekarang sudah berhenti. Mau pulang, nanti dicari orang tua. Jangan sampai ketahuan, nanti malu,” ujar seorang pelajar putri sambil mengusap air matanya.

Baca juga : Sejumlah Wanita Pol PP Mengaku Payudaranya Digerayangi Oleh Rekannya Sendiri

Di sisi lain, Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Baja Sukma menyatakan, para pelajar tersebut akan didata dan dilakukan assesment.

“Dilihat dulu seberapa parah tingkat kecanduannya. Nanti akan diputuskan bagaimana rehabilitasinya. Yang pasti mereka tetap bisa bersekolah. Untuk kelas dibobol tersebut, mereka semua tidak ada yang mengaku,” ujarnya.
(Muspri-sisidunia.com)