Home » Techno » Selain Memberikan Manfaat Komunikasi, Polri Menilai Medsos Sebagai Media Saling Serang

Selain Memberikan Manfaat Komunikasi, Polri Menilai Medsos Sebagai Media Saling Serang



Jakarta – Perkembangan teknologi informasi di Indonesia kini sudah dirasakan oleh seluruh masyarakat secara luas. Hal ini terlihat dari dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi tersebut.

Selain Memberikan Manfaat Komunikasi, Polri Menilai Medsos Sebagai Media Saling Serang

Ilustrasi

Seperti yang diketahui, perkembangan teknologi tak hanya membawa dampak positif dari segi kemudahan berkomunikasi. Perkembangan teknologi informasi juga dapat membawa dampak yang negatif salah satunya adalah media sosial dimana dipergunakan untuk saling serang, saling menghujat satu sama lain dan kemudahan penyebaran berita bohong alias hoax.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Polisi Mohammad Fadil Imran menyayangkan sikap sebagian pengguna media sosial di Indonesia yang tidak sesuai ketentuan itu.

“Orang Indonesia menganggap dunia maya tidak ada aturannya,” kata Fadil dalam sebuah diskusi publik ‘Penebaran Kebencian, Problem Intoleransi, dan Peranan Penegak Hukum’ di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin 27 Februari 2017.

Menurut dia, penggunaan media sosial yang tidak sesuai itu bisa menimbulkan tindak pidana. Seperti menyebarkan ujaran kebencian dan informasi bohong alias hoax yang menyerang seseorang.

Baca juga : Dianggap Sudah Jadi Industri, Polisi Beri Perhatian Khusus Pada Peta Buzzer Indonesia

“Paling banyak fitnah, pencemaran nama baik, hate speech. Lebih kepada hubungan personal kepada teman dengan teman, karyawan dengan majikan. Antara tetangga dengann tetangga. Kebanyakan seperti itu,” ucap Fadil.

Mantan Kapolres Metro Jakarta Barat itu meminta kepada masyarakat Indonesia agar lebih cerdas menggunakan media sosial. Sebab penindakan hukum terhadap para pelaku penyebar kebencian dianggap tidak cukup ampun menyelesaikan masalah.

“Counter speech perlu dilakukan. Yang paling efektif saya kira mengubah budaya-budaya itu. Kami sampai kapan penegakan hukum, habis uang negara,” Fadil menjelaskan.
(Muspri-sisidunia.com)