Home » Travel & Kuliner » Kyoto Menyediakan Persewaan Kimono Ala Bangsawan Jepang

Kyoto Menyediakan Persewaan Kimono Ala Bangsawan Jepang



Kyoto – Berlibur ke Jepang tidak lengkap jika belum menginjakkan kaki di Kyoto. Di kota ini traveler bisa menyewa kimono seharian layaknya bangsawan.

Kyoto Menyediakan Persewaan Kimono Ala Bangsawan Jepang

Gadis-gadis memakai kimono di Kyoto

Kota yang pernah menjadi ibukota Jepang ini, banyak dijumpai wisatawan memakai kimono dengan warna-warni yang cerah. Tanpa kata, kimono menjadi bahasa gambar bila wisatawan telah sampai ke Jepang.

Baca juga : Festival Cahaya di Jepang Seluas 26.400 Meter Persegi

Untuk mencapai Kyoto, wisatawan cukup naik kereta api JR dengan waktu tempuh 30 menit dari Osaka atau 2,5 jam dari Tokyo menggunakan Shinkansen. Setelah tiba di Stasiun Kyoto, traveler tinggal keluar pintu utama dan membeli daily pass bus dengan tarif 500 Yen. Dengan tiket itu, wisatawan bebas menjelajah seluruh Kyoto selama satu hari penuh.

Salah satu tempat yang wajib disinggahi adalah Kiyomizu Dera atau Kuil Kiyomizu. Dari Stasiun Kyoto hanya 10 menit atau 4 kali halte. Setelah berhenti di halte Gojozaka, wisatawan tinggal jalan kaki sekitar 1 km.

Di sepanjang jalan, didapati banyak tempat cinderamata dan kedai makanan. Dan tak ketinggalan, tempat penyewaan kimono, baik untuk pria, wanita atau anak-anak.

Dengan merogoh kocek sekitar 5.000 Yen atau sekitar Rp 550 ribuan, wisatawan bisa mengubah diri menjadi warga asli Jepang selama satu hari penuh. Tiap-tiap penyewaan kimono memiliki harga bersaing.

Untuk pria, ada dua jenis kimono yaitu kimono formal atau montsuki dan kinagashi sebagai pakaian sehari-hari atau ketika keluar rumah pada kesempatan tidak resmi. Adapun untuk perempuan lebih banyak varian seperti jenis Kurotomesode, Tomesode, Furisode, Iromuji, Tsukesage adalah kimono semiformal untuk wanita yang sudah atau belum menikah.

“Kami dari Hong Kong, kalau pakai kimono lebih bagus buat foto-foto,” kata Han saat berbincang dengan detikTravel beberapa waktu lalu.

Beda dengan Indonesia yang malu-malu memakai baju tradisional, di Kyoto memakai Kimono malah lebih asyik karena yang memakai kimono jumlahnya ratusan. Wisatawan bebas selfie atau foto bersama layaknya bangsawan Jepang pada masa kekaisaran di kota yang mulai dibangun pada tahun 700-an Masehi itu.

Dengan baju itu wisawatan bisa foto di Kiyomizu Dera atau menjelajah Kyoto ke berbagai lokasi lain yang saling berdekatan. Bisa di kuil, atau ke kawasan desa tempo dulu, Gion. Di antara mereka bergerombol, dan di antara lainnya merupakan sepasang pengantin baru.

“Kami lagi bulan madu dan Kyoto menjadi pilihan kami karena kotanya cantik,” ujar wisatawan asal Korea Selatan, Won.

(bens – sisidunia.com)