Home » News » Bupati Purwakarta Blak-blakan Terkait Perputaran Uang di Taman Air Mancur Sri Baduga

Bupati Purwakarta Blak-blakan Terkait Perputaran Uang di Taman Air Mancur Sri Baduga



Purwakarta – Taman Air Mancur Sri Baduga sejak pertama dibuka dan hingga kini digatiskan untuk warga. Khusus pertunjukan air mancur menari hanya dibuka pada Sabtu malam selama tiga sesi pertunjukan. Bahkan dalam beberapa waktu tertentu sesi pertunjukan bisa ditambah pada hari yang sama atau hari berbeda.

Bupati Purwakarta Blak-blakan Terkait Perputaran Uang di Taman Air Mancur Sri Baduga

Taman Air Mancur Sri Baduga

Selain terdapat air mancur terbesar se-Asia Tenggara, di kawasan wisata Situ Buleud pun setiap malam minggu terdapat Kampoeng Maranggi yang merupakan kumpulan pedagang sate maranggi dari berbagai daerah di Purwakarta dan Wisata Kuliner Tjeplak yang menyuguhkan berbagai makanan dan minuman yang rata-rata tradisional.

Sementara itu pada siang hari pada hari-hari biasa Situ Buleud tetap dibuka untuk umum sebagai sarana olahraga masyarakat. Bahkan warga pun berkesempatan memberi makan berbagai macam ikan yang jumlahnya mencapai puluhan ton yang berada di kawasan tersebut.

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, ternyata memiliki alasan tersendiri untuk tidak memungut tiket masuk ke dalam taman. Dia menilai tugas pemerintah adalah menjaga regulasi perputaran uang di daerah dan bukan sebanyak-banyaknya mencari keuntungan dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Orang lain ngapain sih APBD dibuangin (pembuatan Taman Air Mancur Sri Baduga). Justru menurut saya tidak,” tegas Dedi saat membuka acara peresmian tahap tiga Taman Air Mancur Sri Baduga di kawasan wisata Situ Buleud, Sabtu (18/2/2017).

Baca juga : Walikota Surabaya Meniadakan Pertunjukan Air Mancur Menari Di Malam Pergantian Tahun

Dia mencontohkan, untuk setiap pertunjukan setidaknya pemerintah harus menggelontorkan uang Rp 30-50 juta untuk listrik dan operator. Namun hal tersebut tidak sebanding dengan perputaran uang yang terjadi di sekitaran Taman Air Mancur Sri Baduga seperti Kampoeng Maranggi dan Wisata Kuliner Tjeplak. Dari dua tempat tersebut satu malam bisa terjadi perputaran uang hingga Rp 1 miliar.

Belum lagi, lanjut Dedi, keberadaan taman tersebut pun mengikis pengeluaran keluarga saat mencari hiburan dikala weekend. Pasalnya jika satu keluarga terus menerus mencari hiburan ke luar daerah maka pengeluaran pun akan membengkak, berbeda halnya dengan berwisata di kawasan Situ Buleud yang sudah terintegrasi yang tidak akan lebih dari Rp 100-150ribu perkeluarga.

“Ini adalah cara kami menggerakan perekonomian publik. Kita membuat warga bahagia. Berawal dari Purwakarta kita bangun Indonesia sebagai negeri bahagia,” ucapnya.

Ungkapan Dedi itu pun diamini oleh Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Dalam sambutannya pun Arief menjelaskan tujuan pembangunan pariwisata yang ujungnya sama-sama mensejahterakan rakyat. Bahkan Arief pun menilai target satu juta wisatawan di Purwakarta akan membantu regulasi perekonomian hingga mencapai Rp 1 triliun.

“Pariwisata itu ada dua nilai. Pertama adalah kultural dan kedua komersil. Pariwisata itu semakin dilestarikan akan semakin mensejahterakan,” pungkas mantan Dirut PT Telkom Indonesia itu.
(Muspri-sisidunia.com)