Home » News » Lebih Dari 20 Organisasi Kepemudaan Lintas Agama Mendeklarasikan Forum Kebangsaan Di Jawa Timur

Lebih Dari 20 Organisasi Kepemudaan Lintas Agama Mendeklarasikan Forum Kebangsaan Di Jawa Timur



dari berbagai elemen atau organisasi lintas agama di Jawa Timur menandatangani Prasasti Kebangsaan yang berisi tekad untuk memperkokoh rasa persatuan dan semangat kebangsaan, serta menjaga kerukunan hidup masyarakat Jawa Timur dari berbagai upaya yang ingin memecah belah persaudaraan di antara masyarakat.

Lebih Dari 20 Organisasi Kepemudaan Lintas Agama Mendeklarasikan Forum Kebangsaan Di Jawa Timur

Gambar Ilustrasi

Ketua Forum Kebangsaan Jawa Timur, Rudi Triwahid mengatakan, peluncuran Forum Kebangsaan Jawa Timur, merupakan wujud kepedulian bersama organisasi kepemudaan, untuk menjaga suasana aman dan kondusif di Jawa Timur. Rudi yang merupakan Ketua Pengurus Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur mengajak seluruh masyarakat, tidak terpengaruh dan ikut-ikutan terlibat konflik yang terjadi di daerah lain, yang disebabkan oleh isu agama maupun etnis.

 

Baca Juga : Pendapat JK Tentang Karir Politik Agus

Rudi mengatakan, “Selama ini kita dipertontonkan pertarungan, perbedaan, konflik, caci maki macam-macam, yang dipertontonkan ke masyarakat kan itu. Tapi sebenarnya mayoritas yang terjadi di Jawa Timur sebenarnya tidak begitu. Nah ini harus ditunjukkan ke masyarakat, ini loh Jawa Timur tidak seperti yang ditonton selama ini.”

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf yang hadir dan menandatangani Prasasti Kebangsaan menegaskan, Jawa Timur harus mampu menularkan virus kerukunan antar masyarakat yang saling menghargai dan menghormati.

“Jangan sampai yang terjadi di daerah-daerah lain terutama suasana yang bisa mengganggu persaudaraan itu, terjadi di Jawa Timur. Kalau perlu Jawa Timur bisa jadi contoh, bahwa perbedaan bisa disikapi dengan arif, semua bisa mempertimbangkan apa pun itu lebih utuh, mempertimbangkan kearifan lokal,” ujar Saifullah.

Saifullah Yusuf mengajak masyarakat mengedepankan dialog atau musyawarah untuk menyelesaikan setiap permasalahan, bukan dengan konflik atau kekerasan. Dia menambahkan, persatuan dan kerukunan sangat diperlukan, untuk mendukung pekerjaan pemerintah membangun daerah dan masyarakatnya.

“Kerukunan ini harus kita jaga. Kebersamaan ini harus kita jaga. Kalau ada masalah-masalah, mari kita bicarakan, mari kita bermusyawarah, mari kita cari solusi. Ada banyak masalah-masalah bangsa ini yang perlu kita atasi, di antaranya masalah kesenjangan, dan juga masalah kebangsaan, dan juga tentu masalah-masalah pembangunan infrastruktur yang lain, yang ini semua memerlukan kebersamaan,” imbuhnya.

 Sementara itu, Ketua Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Jawa Timur, Pendeta Simon Filantropa mengatakan, kunci menjadi sebuah bangsa yang maju terletak pada kerelaan untuk memaafkan masa lalu, termasuk memaafkan sesama warga bangsa yang pada masa lalu pernah saling menyakiti.

“Kalau bangsa itu mau maju, dia harus bisa memaafkan masa lalunya. Kenapa lalu Gus Mus (KH Mustofa Bisri) itu muncul dengan, mengabadikan kebaikan dengan melupakan kesalahan. Karena kalau segala kesalahan itu dibawa-bawa menuju masa depan, kita akan terseok-seok,” kata Simon.

(Bens – sisidunia.com)