Home » News » Kartu Nama Salah Satu Paslon Ada Dalam Bilik Pemilihan Suara

Kartu Nama Salah Satu Paslon Ada Dalam Bilik Pemilihan Suara



Jakarta – Tim Badan pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengeritik sejumlah kelemahan tempat pemungutan suara (TPS).

Kartu Nama Salah Satu Paslon Ada Dalam Bilik Pemilihan Suara

Gambar ilustrasi

Permasalahan tersebut yakni mulai dari pemilih menunggu panggilan di luar lokasi TPS, hingga ditemukannya kartu nama salah satu pasangan calon.

Baca juga :ย Anies Memiliki Strategi Untuk Hadapi Putaran Kedua Pilgub DKI

“Sebelumnya kita sudah petakan sebanyak 69 TPS rawan dari 210 TPS di 48 kelurahan yang ada. Fokus pada TPS rawan, kita menemukan masih ada terjadi kondisi TPS yang belum sesuai dengan standar,” sebut Ketua Bawaslu Provinsi Sumbar Aliyanti, Jumat (17/2/2017).

Tim Bawaslu Sumbar ketika memantau berjalannya pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Payakumbuh, pada Rabu (15/2/2017) lalu juga melihat adanya TPS yang tidak sesuai dengan standar.

“Dari TPS yang kita kunjungi, ditemukan ada yang tidak sesuai denah, seperti adanya TPS yang hanya dilengkapi satu pintu masuk dan pintu keluar. Padahal seharusnya terdapat satu pintu masuk dan satu pintu untuk keluar bagi pemilih. Selain itu juga ada ditemukannya kartu nama salah satu pasangan calon (paslon),” sebut Ketua Panwaslih Kota payakumbuh, Suci Wildanis.

Panwaslih Kota Payakumbuh belum bisa memastikan apakah kartu tersebut sengaja diletakkan dalam bilik suara atau hanya milik pemilih yang tertinggal saat melakukan pencoblosan terkait dengan ditemukannya kartu salah satu paslon dibilik suara tersebut.

Selain itu, temuan dilapangan yang berhasil dirangkum Tim Bawaslu Provinsi Sumbar bersama panwaslih Kota payakumbuh, ada TPS yang minim persediaan tempat duduk pemilih guna menunggu panggilan pencoblosan. Sehingga pemilih berada di luar lokasi TPS yang sudah ada di denah TPS.

“Ini juga berpotensi terjadi kecurangan, sebab akan sulit diawasi pemilih yang berada diluar area TPS. Jika lokasinya tidak memungkinkan, seharusnya penyelenggara mencari tempat alternatif lain,” sebut jebolan Universitas Andalas ini.

(bens – sisidunia.com)