sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Habibie Mengaku Belajar Nasionalisme dan Tidak Mengenal SARA Dari Soekarno

Habibie Mengaku Belajar Nasionalisme dan Tidak Mengenal SARA Dari Soekarno



Jakarta – Presiden Ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (80) memiliki dua orang yang dianggap sebagai guru besarnya, yaitu Soekarno dan Soeharto. Kedua guru besar tersebut juga pernah manjabat sebagai Presiden Pertama dan Presiden Kedua Republik Indonesia.

Habibie Mengaku Belajar Nasionalisme dan Tidak Mengenal SARA Dari Soekarno

Presiden Ketiga RI, BJ Habibie

“Soekarno mengajari saya nasionalisme dan tidak mengenal SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan),” ungkap Habibi dalam Presidential Lecture BI Institute di Gedung Thamrin, kompleks Bank Indonesia, Senin (13/02/2017).

“Pak Harto, maafkan ya, dia mengajari saya bagaimana memimpin orang Jawa. I’m not kidding. Dia ajarin begitu karena bagian besar orang Jawa. Dia ajarin karena banyak orang Jawa tidak tahu bagaimana memimpin orang Jawa,” tambahnya.

Sebagai mayoritas, suku Jawa diakui memegang porsi yang sangat besar, bahkan hingga hari ini. Ia teknokrat yang tahu bertoleransi. Karena itu, memahami cara berhadapan dengan orang Jawa dipandangnya sebagai sesuatu hal yang penting. Dengan bekal kesantunan di ruang publik tapi tetap tegas mengambil sikap, ia percaya generasi saat ini bisa membawa perubahan yang lebih baik.

Baca juga : BJ Habibie Mengaku Pernah Dilarang Bermain Catur Oleh Orang Tuanya

Seperti yang diketahui bahwa Bacharuddin Jusuf Habibie adalah sebuah fenomena bagi Indonesia. Prestasi dan sumbangsihnya bagi bangsa luar biasa. Tak hanya di Indonesia, di dunia Internasional pun nama BJ Habibie juga cukup dikenali.

Hingga sekarang, Habibie merupakan ilmuan paling jenius yang dimiliki Indonesia, bahkan dunia. Sederet karya dan inovasinya menjadi musababnya. Berkat temuan-temuannya, dunia penerbangan berkembang pesat.
(Muspri-sisidunia.com)