sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Gadis Berhijab Ini Merasakan Toleransi Yang Tinggi di di Negara Ratu Elizabeth

Gadis Berhijab Ini Merasakan Toleransi Yang Tinggi di di Negara Ratu Elizabeth



Newcastle – Intoleransi terhadap perempuan berhijab sering terjadi di negara Barat. Namun, pengalaman sebaliknya dirasakan seorang pelajar Indonesia bernama Trifty Qurrota Aini.

Gadis Berhijab Ini Merasakan Toleransi Yang Tinggi di di Negara Ratu Elizabeth

Wanita muslim asal Indonesia, Trifty Qurrota

Trifty yang juga mantan jurnalis ini tengah menempuh program Master di Newcastle University, Inggris ini bercerita tentang bagaimana toleransi begitu dijunjung tinggi di negara Ratu Elizabeth itu.

“Warga di sana justru yang penasaran mengajak berkenalan. Mereka penasaran melihat saya menggunakan hijab yang bercorak dan stylish. Di Newcastle sendiri masyarakat hidup berdampingan dengan baik bersama dengan warga muslim. Bahkan ada wilayah khusus di Newcastle yang warganya mayoritas muslim, bernama Fenham,” tuturnya.

Seorang perempuan memakai hijab memang bukan lagi hal baru di negara barat. Sejak 2013, dirayakan peringatan World Hijab Day yang diprakarsai Nazma Khan, perempuan Bangladesh yang berdomisili di New York. Peringatan yang jatuh setiap 1 Februari itu ingin mengajak perempuan di seluruh dunia untuk melawan diskriminasi terhadap perempuan berhijab.

Baca juga : Politisi Inggris Ini Mendapat Lemparan Telur Karena Pro Trump

Trifty sendiri menilai, World Hijab Day mampu memberikan dampak positif terhadap muslim di negara yang mayoritas penduduknya non muslim.

“World Hijab Day seakan seperti bentuk solidaritas untuk muslimah di seluruh dunia. Hikmah lainnya World Hijab Day adalah semakin eratnya ukhuwah islamiyah di antara sesama muslim di berbagai belahan negara,” ungkapnya.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengeluarkan perintah eksekutif melarang imigran dari tujuh negara mayoritas Muslim masuk ke AS hingga 90 hari ke depan mendapat kecaman dari masyarakat berbagai negara.

Di Inggris, masyarakat turun ke jalan pada 31 Januari lalu, Trifty, yang ikut dalam demonstrasi tersebut mengatakan, Trump yang secara terbuka mengeluarkan kebijakan diskriminatif membuat masyarakat terpanggil untuk menentangnya.

Gadis Berhijab Ini Merasakan Toleransi Yang Tinggi di di Negara Ratu Elizabeth

Trufty Qurrota ikut demo tolak kebijakan trump

“Para demonstran menyerukan menolak tindakan rasis dan diskriminatif, mereka menginginkan perdamaian, menghidupkan rasa solidaritas dan kemanusiaan terhadap pengungsi negara-negara konflik, dan menentang fasisme yang dianggap representatif dari sosok Trump,” jelas perempuan yang pernah menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor itu.

Trifty dan para demonstran optimistis apa yang mereka upayakan mampu memberi pengaruh.

“Saat ini, pemerintah Inggris sedang membuat petisi melarang Trump melakukan state visit ke Inggris. Petisi ini sudah ditandatangani sekitar 1,8 juta warga Inggris. Kebijakan pelarangan Trump masuk Inggris akan dibahas di parlemen Inggris pada 20 Februari mendatang,” urai Trifty.

Saat mengikuti aksi, Trifty memiliki pengalaman berkesan lainnya yang kembali mencerminkan besarnya toleransi di negara tersebut.

“Saat saya lewat, beberapa pendemo mengucapkan assalamualaikum,” kenangnya.
(Muspri-sisidunia.com)