Home » News » Kisah Kamari, Sang Penyelamat Mayat Arus Sungai Brantas

Kisah Kamari, Sang Penyelamat Mayat Arus Sungai Brantas



Kepanjen – Bendungan Sengguruh di Desa Sengguruh, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, bisa disebut sebagai harapan terakhir untuk menemukan mayat yang terbawa arus Sungai Brantas.

Kisah Kamari, Sang Penyelamat Mayat Arus Sungai Brantas

Ilustrasi

Di bendungan ini pula Kamari (63) kerap mengevakuasi setiap mayat yang hanyut. Tidak tanggung-tanggung, ratusan mayat sudah dievakuasi pria tua ini.

Warga Jalan Kramat, Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang, ini berkisah sejak kecil sudah biasa bermain di Sungai Brantas hingga kemudian dibangun bendungan.

Kegiatan sehari-hari Kamari mencari nafkah di Bendungan Sengguruh dengan mengumpulkan sampah plastik untuk dijual kembali ke pengepul barang rongsokan.

“Kalau yang lain di Sengguruh mencari ikan, saya mencari rongsokan. Karena saya tidak bakat kalau disuruh mencari ikan,” cerita Kamari, dilansir dari Surya, Minggu (5/2/2017).

Suami Sutik (50) ini setiap hari berjibaku dengan sampah di Bendungan Sengguruh. Sehari penghasilannya Rp 30.000. Di tengah mencari sampah, Kamari terkadang menemukan mayat.

Mayat yang ia evakuasi ke pinggir bendungan sudah membusuk. Kamari juga sering dipanggil jika ada penemuan mayat di Bendungan Sengguruh.

Lelaki mungil yang ramah ini juga diminta membawa mayat ke pinggir sebelum dievakuasi tim SAR ke kamar mayat rumah sakit dan diserahkan ke ahli waris.

Kamari sudah mengevakuasi sekitar 250 hingga 300 mayat dari Bendungan Sengguruh. Kamari mengaku kasihan melihat dan membiarkan mayat mengambang di bendungan.

“Kasihan, kok terapung-apung seperti sampah. Makanya saya berusaha untuk membawahnya ke pinggir,” ucap Kamari.

Baca juga : Seorang Warga Menemukan Mayat Bayi Saat Mencari Ikan

Ayah dua anak ini sudah kebal bau mayat busuk. Kamari mengaku tidak pernah mencium bau busuk mayat. Karena setiap ada mayat yang dipikirkannya adalah lekas membawa ke daratan.

Ia pernah mengangkat mayat yang kondisinya sangat buruk. Saat diangkat, tangan mayat tersebut terlepas dari tubuhnya. Kamari tidak jijik dan kembali mengambil potongan tubuh yang lepas.

“Mungkin karena sudah terlalu lama di air, makanya protol. Sudah biasa, saya tidak risi sama sekali. Saya angkat dengan tangan saya,” tutur Kamari.

Semua orang mengaku jasa kakek tiga cucu ini. Kamari tak pernah mengharap pemberian karena mengevakuasi mayat ia lakukan secara ikhlas. Tim SAR dan PMI atau kepolisian kerap memberinya uang.

“Kalau diberi ya saya terima, tapi kalau tidak diberi juga tidak apa-apa. Tujuan saya memang menolong, bukan mencari upah,” tambah dia.
(Muspri-sisidunia.com)