Home » Techno » Indonesia Butuh Waktu 5-10 Tahun Lagi Untuk Membuat Satelit Sendiri

Indonesia Butuh Waktu 5-10 Tahun Lagi Untuk Membuat Satelit Sendiri



Jakarta – Telkom yang akan meluncurkan satelit Telkom 3S pada pertengahan Februari 2017, berharap Indonesia dalam waktu dekat sudah bisa memproduksi satelit karya anak bangsa.

Indonesia Butuh Waktu 5-10 Tahun Lagi Untuk Membuat Satelit Sendiri

Ilustrasi Satelit

Demikian disampaikan oleh Direktur Network, IT & Solution Telkom, Abdus Somad Arief, ketika ditemui di Stasiun Pengendali Utama Satelit Telkom, Cibinong, Jawa Barat.

“Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang meluncurkan satelit pada 1976 lalu. Sejak itu, sampai sekarang, kita selalu beli satelit. Kami harap dalam 5-10 tahun lagi, Indonesia bisa membuat satelit sendiri,” ujar pria yang akrab disapa ASA ini.

Ia mencontohkan, Indonesia sejatinya sudah mampu memproduksi satelit sendiri tanpa bantuan vendor asing. Misalnya, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah membuat dan meluncurkan satelit sendiri di luar angkasa.

“Ini tantangan buat researcher dan manufacturer lokal. Kami pernah ketemu LAPAN dan mereka sudah buat. Telkom akan mendukung, dan kami punya pasarnya. Kebutuhan kita terhadap satelit masih sangat banyak. Itu sebabnya, sambil jalan, kita pakai dulu yang sudah ada untuk Telkom 3S,” kata dia.

Untuk memproduksi satelit Telkom 3S, Telkom menggaet vendor asal Prancis, yakni Thales Alenia Space untuk membuat bodi satelit, dan Ariane Space untuk membuat peluncur satelit (launcher). Keduanya dipilih dengan melalui proses tender.

ASA menilai Indonesia masih akan terus membutuhkan satelit, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dengan lebih dari 17.000 pulau di seluruh Indonesia. Pembangunan jaringan seluler dan serat optik masih dirasa sulit untuk menjangkau daerah terpencil.

Meski tidak digunakan langsung ke end-user, satelit merupakan jaringan backbone atau pendukung jaringan seluler dan serat optik. Cakupan satelit yang sangat luas dan memperkuat pengiriman jaringan telekomunikasi kepada masyarakat.

“Indonesia butuh satelit jangka panjang karena banyak sekali daerah di Indonesia yang harus di-cover. Makanya, kita harus menantang diri sendiri untuk membuat (satelit) dengan tangan sendiri. Tentu butuh waktu,” paparnya

“Lagipula, karena kami cuma sebagai user, ini bukan hanya pekerjaan rumah Telkom saja, tetapi juga researcher dan manufacturer. Kalau memang kita belum mampu, sewa saja dulu, tetapi risetnya tetap kita jalani. Kalau tidak cepat-cepat, kita bisa keduluan asing,” tegasnya.

“Indonesia perlu 300 transponder, sementara kita cuma punya 140 transponder. Masih lebih banyak sewa satelit asing, 160 transponder. Itu sebabnya, dengan satelit Telkom 3S ini, kita bisa mengurangi ketergantungan terhadap satelit asing,” papar ASA lebih lanjut.

Satelit Telkom 3S sendiri akan diluncurkan pada 14 Februari waktu setempat di Kuorou, French Gueiana. Satelit yang akan menempati slot orbit 118 derajat Bujur Timur (BT) ini akan membawa 49 transponder, yang terdiri dari 10 transponder Ku-Band, 24 transponder C-Band, dan 8 transponder Extended Band.