Home » News » Tim Subdit Cyber Crime Distreskrim Tengah Menyelidiki Penyebaran Konten Pornografi

Tim Subdit Cyber Crime Distreskrim Tengah Menyelidiki Penyebaran Konten Pornografi



Jakarta – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya tengah mengusut penyebaran konten pornografi di 2 situs yang mirip baladacintarizieq(dot)com.

Tim Subdit Cyber Crime Distreskrim Tengah Menyelidiki Penyebaran Konten Pornografi

baladacintarizieq.com

“Tentunya yang kami selidiki dalam kasus ini adalah penyebarnya dan juga yang membuatnya,” ujar Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat, Selasa (31/1/2017).

Menurut Wahyu, baik penyebar maupun pembuat konten porno di situs tersebut harus bertanggung jawab. “Jadi tidak hanya yang menyebarkan, tetapi yang membuat juga bisa diproses,” imbuh Wahyu.

Baca juga : KPK Beberkan Sejumlah Bukti Terkait Kasus Suap Patrialis Akbar

Wahyu mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat terkait situs tersebut. Saat ini, tim Subdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya tengah menyelidiki pelaporan tersebut.

“Iya sudah kami terima, semalam laporannya. Tentunya kami akan proses laporan tersebut, kami selidiki,” tutur Wahyu.

Kasus tersebut dilaporkan oleh Ketua Aliansi Mahasiswa Anti Pornografi Jefri Azhar, pada Senin (30/1/2017). Dalam laporan bernomor LP/510/I/2017/PMJ/Ditreskrimsus, Jefri melaporkan 2 situs atas dengan Pasal 4 ayat (1) jo pasal 29 dan atau pasal jo pasal 32 uu RI no 44 tahun 2008 tentang pornografi dan atau pasal 27 ayat (1) jo pasal 45 ayat (1) uu RI no 11 tahun 2008 ttg ITE sebagaimana telah diubah dengan UU RI no 19 tahun 2016 tentang perubahan UU RI No 11 tahun 2008 tengang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Kedatangan kita ke sini melaporkan bahwasanya ada beredar seksi yang diduga Firza Husein yang dikaitkan dengan Habib Rizieq. Nah kedatangan kami disini melaporkan bahwasanya ini sangat vital sekali, seharusnya tidak boleh disebar karena bisa menimbulkan kekacauan yang masif,” jelas Jefri di Polda Metro Jaya, Senin 30 Januari kemarin.

“Kita meminta kepada Polri untuk membuktikan keaslian dokumen dan foto ini benar atau tidak karena ini sangat menganggu generasi muda,” sambungnya.

(bens – sisidunia.com)