Home » News » Patrialis Ditangkap KPK Ketika Sedang Berbelanja Bersama Seorang Wanita

Patrialis Ditangkap KPK Ketika Sedang Berbelanja Bersama Seorang Wanita



Jakarta – Malam belum larut ketika penyidik KPK memasuki pintu utama pusat perbelanjaan Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (25/1) pukul 21.30 WIB. Mereka hendak menangkap seorang hakim Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar.

Patrialis Ditangkap KPK Ketika Sedang Berbelanja Bersama Seorang Wanita

Patrialis Akbar

Tidak lama. Menteri Hukum dan HAM 2009-2011 itu pun digelandang bersama seorang perempuan yang menemaninya berbelanja.

Patrialis diduga menerima suap US$20 ribu dan S$200 ribu dari pengusaha bernama Basuki Hariman terkait dengan uji materi UU No 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Uang itu disampaikan melalui perantara yang juga pengusaha bernama Kamaludin.

“Penangkapan Patrialis berkat laporan masyarakat ihwal tindakan korupsi penyelenggara negara. Patrialis diduga menerima hadiah US$20 ribu dan S$200 ribu. Dalam penangkapan itu kami juga menyita dokumen perusahaan, voucer pembelian mata uang asing, dan draf putusan perkara,” kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan, kemarin.

Basaria melanjutkan, sebelum menangkap Patrialis yang menjadi anggota DPR dari PAN pada 1999-2009, KPK terlebih dulu membekuk sejumlah orang di tiga lokasi berbeda. Pertama, KPK menangkap perantara suap yang juga sahabat Patrialis, Kamaludin, di lapangan golf Rawamangun. Lalu dari Sunter, Jakarta Utara, KPK membawa Basuki Hariman dan sekretarisnya, NJ Fenny, juga enam karyawan.

Baca juga : Tersangka Kasus Suap Terlihat Santai Saat Diperiksa KPK

Setelah memeriksa ke-11 orang itu sehari penuh, baru KPK menaikkan status perkara ke penyidikan dengan menetapkan Patrialis, Kamaludin, Basuki Hariman, dan NJ Fenny sebagai tersangka.

“Basuki Hariman diduga memberi hadiah kepada Patrialis terkait dengan uji materi UU No 41/2014. Dalam rangka mengurus perkara, Basuki Hariman dan NJ Fenny selaku importir daging mendekati Patrialis melalui Kamaludin untuk melancarkan impor,” ujar Basaria.

Patrialis pun menyanggupi untuk membantu Basuki Hariman agar permohonan uji materi dengan nomor 129/PUU.12 Tahun 2015 tersebut dapat dikabulkan MK.

Perbuatan lancung Patrialis yang menjadi hakim konstitusi sejak 2013 itu setali tiga uang dengan ulah hakim yang digantikannya, Akil Mochtar. KPK menangkap Akil atas dugaan penyuapan pada awal Oktober 2013 di rumah dinasnya, Jalan Widya Chandra, Jakarta. Ketika itu KPK menyita fulus sekitar Rp3 miliar dalam mata uang dolar AS dan dolar Singapura.

Pada 30 Juni 2014 majelis hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta mengganjar mantan Ketua MK Akil Mochtar dengan hukuman bui seumur hidup karena terbukti menerima hadiah dan tindak pidana pencucian uang dalam sejumlah sengketa pilkada yang disidangkan di MK.

Majelis hakim menyatakan Akil terbukti menerima suap dalam empat dari lima sengketa pilkada dalam dakwaan pertama, yaitu pilkada Kabupaten Gunung Mas (Rp3 miliar), pilkada Lebak (Rp1 miliar), pilkada Empat Lawang (Rp10 miliar dan US$500 ribu), dan pilkada Kota Palembang (sekitar Rp3 miliar). (Pra/Ant/X-3)
(Muspri-sisidunia.com)