Home » Hiburan » Lestarikan Kesenian Lokal, Ini Lika Liku Para Penggiat Ludruk Surabaya

Lestarikan Kesenian Lokal, Ini Lika Liku Para Penggiat Ludruk Surabaya



Surabaya – Melestarikan kesenian lokal saat ini memang tidak mudah, selain jaman yang terus berubah juga harus berjuang sendiri untuk terus bisa berkarya.

Lestarikan Kesenian Lokal, Ini Lika Liku Para Penggiat Ludruk Surabaya

Pementasan Ludruk ‘Suster Gepeng’ di THR Surabaya

Misalnya, komunitas ludruk Luntas atau Ludrukan Nom-noman Tjap Arek Soeroboio. Di usinya yang pertama, Luntas membuktikan bisa eksis menggelar 8 kali pentas ludruk tanpa bantuan anggaran dari pemerintah.

Koordinator Komunitas Ludruk Luntas Robert Bayonet menceritakan lika-liku bergelut dengan dunia kesenian khas Surabaya ini. Robert mengaku dukungan dari pemerintah dirasa belum ada.

Komunitas Luntas sendiri pun tidak terlalu memperdulikan perhatian pemerintah asal bisa tetap berkarya. Bermodal keikhlasan para pemain di dalam komunitasnya, Luntas optimis akan terus mempertahankan budaya pusaka kesenian ludruk ini.

“Pemerintah peduli ya syukur, tidak ya tidak apa-apa. Kami masih punya pemain yang tetap mau berkarya meski tak dibayar,” kata Robert disela-sela pementasan ludruk dengan judul ‘Suster Gepeng’ di Gedung Pringgondani Taman Hiburan Rakyat (THR) seperti yang dilansir dari detikcom, Senin (23/1/2017).

Pria yang telah menekuni ludruk sejak duduk di bangku SMP ini menceritakan kekuatan Komunitas Ludruk Luntas memang ada pada orang-orang di dalamnya. Meski berangkat dari latar belakang yang berbeda, kecintaannya pada ludruk mampu mempertahankan eksistensi ludruk yang kian lama gaungnya kian tak terdengar.

“Kami tidak menjanjikan bayaran apa-apa kepada mereka, kami hanya menunjukkan ini loh budaya yang harusnya kalian lestarikan. Mau gabung ya silakan, mau keluar ya silakan. Karena Luntas bukan tempat bekerja tapi tempat menimba ilmu,” paparnya.

Baca juga : Wali Kota Surabaya Ingin Ada Sutradara Film Nasional dan Designer Dari Kota Pahlawan

Robert juga menceritakan kekecewaannya terhadap pemerintah yang terkesan tak acuh pada gedung kesenian di THR Surabaya termasuk Gedung Pringgondani yang biasa digunakan oleh Komunitas Luntas.

“Padahal THR ini legenda, pernah menjadi kebanggaan warga Kota Surabaya juga,” beber Robert.

Terkait dana, Robert mengaku Luntas tak banyak menarget. Asal biaya produksi sudah tertutup maka tak jadi masalah. Dana ini diperoleh dari tiket masuk para penonton yang menyaksikan kebolehan mereka.

“Biasanya dua juta atau setara dengan 200 penonton dan Alhamdulillah Luntas tak pernah sepi penonton. Minimal 150 setiap pentasnya padahal di THR ini 50 orang saja sudah bagus,” lanjut Robert.

Dengan terus ikhlas berkarya, Robert berharap komunitas ini mampu menyandingkan kesenian tradisional ludruk dengan kehidupan metropolitan yang makin modern. Salah satunya dengan terus memodifikasi dan menyesuaikan cara pementasan dengan model masa kini seperti penggunaan efek suara, lagu-lagu modern hingga black man.

“Kami juga gencar kampanye #SaveLudruk melalui media sosial,” pungkasnya.
(Muspri-sisidunia.com)