Home » News » Kivlan Zein Curigai Wiranto Ingin Dirinya Dipenjara

Kivlan Zein Curigai Wiranto Ingin Dirinya Dipenjara



Jakarta – Tersangka kasus makar, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein menuding Menko Polhukam Jenderal (Purn) Wiranto adalah salah satu pihak yang ingin menangkapnya. Tudingan itu dilontarkan Kivlan saat bertemu dengan Wakil Ketua DPR Fadli Zon untuk mengadukan kasus makar yang menjerat belasan aktivis.

Kivlan Zein Curigai Wiranto Ingin Dirinya Dipenjara

Kivlan Zein

“Saya merasa ada yang ingin saya ditangkap. Boleh jadi Wiranto. Boleh jadi loh ya,” kata Kivlan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/1).

Kivlan menegaskan pihaknya tidak ada niat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Rencana aksi pada 2 Desember bertujuan menyampaikan petisi agar UUD 1945 dikembalikan untuk mengganti UUD hasil amandemen yang kini digunakan.

“Kami tidak menjual negara, apalagi menggulingkan pemerintahan dengan pasukan bersenjata. Kita hanya usul mengubah ketatanegaraan dan itu tak bisa dipidana,” tegasnya.

Menurutnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan jajarannya gugup dengan munculnya isu makar yang dilakukan kelompok tertentu di aksi bela Islam jilid III. Oleh sebab itu, Polri meresponnya dengan menuding Kivlan cs sebagai pelaku makar.

“Kapolri, Kapolda, mereka semua adik-adikku yang sedang gagap, takut jabatannya dicopot. Saya bilang, Tito dan Iriawan tidak usah takut sama saya. Saya tak akan makar. Justru saya akan korbankan jiwa raga saya untuk negara ini,” pungkasnya.

Baca juga : Rachmawati Berharap Polisi Segera Menghentikan Kasus Dugaan Makar Yang Menyeret Dirinya

Dihubungi secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan dirinya tak terkait dengan penangkapan para tersangka makar. Dia membantah tuduhan Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zein yang mengatakan dirinya menghembuskan isu makar.

“Urusan sudah banyak, kok jatuh-jatuhkan orang. (Saya) enggak ada kaitannya sama sekali (dengan penangkapan tersangka makar),” tegas Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/1).
(Muspri-sisidunia.com)