Home » Ekonomi & Bisnis » Bibit Cabai Amfibi : Harapan Baru Pemerintah Terkait Gejolaknya Harga Cabai di Indonesia

Bibit Cabai Amfibi : Harapan Baru Pemerintah Terkait Gejolaknya Harga Cabai di Indonesia



Jakarta – Persoalan gejolak harga cabai dan terganggunya panen cabai saat musim hujan tengah dicari jalan keluarnya oleh pemerintah.

Bibit Cabai Amfibi : Harapan Baru Pemerintah Terkait Gejolaknya Harga Cabai di Indonesia

Ilustrasi Bibit Cabai

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) akan lebih mengintensifkan pengembangan varietas bibit cabai amfibi lokal ke beberapa di Indonesia.

Hal ini dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan menjaga ketersediaan komoditas ke pasaran terutama saat musim hujan tiba.

Sebab, bibit cabai amfibi nantinya akan berkembang menjadi pohon cabai yang bisa bertahan dan berbuah dikala musim hujan sekalipun.

Seperti saat ini, harga komoditas cabai telah mengalami kenaikan yang cukup luar biasa dan sulit dikendalikan akibat ada beberapa daerah sentra cabai mengalami penurunan produksi karena curah hujan tinggi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Muhammad Syakir mengatakan, solusi masalah panen cabai di kala musim hujan adalah penggunaan bibit cabai amfibi secara masif.

“Ada serangan hama biotik tinggi, karena musim hujan dengan curah hujan tinggi. Kami merekomendasikan penanaman cabai dengan bibi cabai amfibi,” ujar Syakir di Kantor Balitbangtan, Pasar Minggu, Jakarta (6/1/2017).

Dia menjelaskan, pengembangan bibit cabai amfibi tengah dilakukan di Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.

“Tetapi, tentunya dibutuhkan teknologi dukungan untuk potensi genetik amfibinya itu bisa beradaptasi,” ucapnya.

Baca juga : Pengusaha Sambel Pecel Terpaksa “Nombok” Akibat Harga Cabai Naik

Dia menjelaskan, dalam proses tanam dan perawatannya petani telah diberikan pelatihan dari para ahli Litbang Pertanian di berbagai daerah, sekarang yang diperlukan tinggal mengintensifkan bibit cabai amfibi diseluruh Indonesia.

Kendati demikian, rasa dari varietas cabai amfibi ini tidak berbeda dengan cabai jenis biasa. Yang membedakannya adalah pohon dan buahnya dapat bertahan walaupun sedang musim hujan.

Syakir mengatakan, potensi produktivitas dari cabai merah amfibi ini sekitar 24 ton per hektar.

“Sudah ada produksi panen 20-24 ton per hektar. Kalau hujannya tinggi sekali, bisa 18 ton per hektar, dan ini sudah ada di Jabar, Sulawesi, Jatim,” ungkapnya.

Ke depan, dirinya berharap dengan pengembangan dan sosialisai secara masif terkait bibit cabai amfibi, dapat berimbas pada persoalan yang kerap kali menjadi sumber masalah naiknya harga cabai.
(Muspri-sisidunia.com)