Home » News » Remaja Putus Sekolah Ini Diciduk Polisi Karena Edarkan Sabu

Remaja Putus Sekolah Ini Diciduk Polisi Karena Edarkan Sabu



Karanganyar – Seorang pelajar yang putus sekolah berinisial DAP (16) memilih jalan hidupnya sebagai pengedar narkoba jenis sabu. Ia diciduk polisi setelah kedapatan menyimpan 0,17 gram sabu dan sebuah senjata tajam (sajam).

Remaja Putus Sekolah Ini Diciduk Polisi Karena Edarkan Sabu

Penangkapan pelaku di sebuah angkringan, tepatnya depan kantor bank di Ngringo, Jaten, Sabtu akhir pekan lalu berkat laporan dari masyarakat. Satreskrim dan Satnarkoba menangkap remaja ini saat sedang menikmati makanan khas angkringan, Kamis (29/12/2016).

Baca juga : Polisi Perketat Pintu Masuk ke Bali Jelang Perayaan Tahun Baru

Saat digeledah di dalam kantong celana DAP ditemukan dua paket sabu kemasan plastik berperekat yang akan dijual ke konsumennya, Polisi juga mendapati dua benda tajam di dalam jok sepeda motornya Honda Beat AD 6670 MD.

Kapolres Karanganyar, AKBP Ade Safri Simanjuntak dalam gelar barang bukti kasus penyalahgunaan narkoba di Mapolres mengatakan DAP merupakan pengedar barang haram itu. Pernyataan itu didasari bukti rekaman komunikasi antara konsumen dengan tersangka melalui ponsel.

Polisi masih mendalami darimana tersangka memperoleh sabu-sabu dan kepada siapa dia akan menjualnya. Terlepas dari itu, Polres Karanganyar mempertimbangkan penganganan kasus ini mengingat tersangka yang belum cukup umur.

“Diupayakan penanganan secara diversi karena ia tergolong masih anak-anak,” kata Ade Safri Simanjuntak di mapolres setempat.

Ia tak memungkiri butuh penanganan serius terhadap tersangka ini. Melihat rekam jejaknya di jalanan, pengaruh buruk itu sudah sangat merusak. Apalagi tersangka diduga kerap melakukan perkelahian, didasari temuan pisau besi dan knuckle grip yang disembunyikannya di dalam jok sepeda motor pelaku.

Kapolres mengatakan, banyak hal mendorong tersangka berperilaku demikian. Salah satunya bujuk rayu oknum pemilik sabu yang telah membelokkannya dari jalan kebenaran.

“Awalnya dikasih gratis. Setelah nyandu, harus bayar. Namun apa daya anak-anak, duit pun tidak punya. Sehingga menjadi kaki tangan oknum mengedarkan sabu. Imbalannya barang itu juga,” tutup Kapolres.

(bens – sisidunia.com)