Home » Sport » Wasit Tepis Isu Melarang Karateka Berhijab Bertanding

Wasit Tepis Isu Melarang Karateka Berhijab Bertanding



Jakarta – Cabang olahraga karate nasional sedikit terusik beberapa terakhir terkait informasi di media sosial yang menyebutkan adanya atlet karate yang dilarang memakai jilbab pada Kejuaraan Karate yang digelar di Gedung Olah Raga (GOR) Magetan, Jumat (23/12/2016).

Wasit Tepis Isu Melarang Karateka Berhijab Bertanding

Mengenai informasi ini, baik pihak wasit maupun Pengprov Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (FORKI) Jatim, langsung memberikan bantahan.

Baca juga : Irfan Bachdim dan Istri Rayakan Natal Lewat Sebuah Unggahan Foto Ciuman

Menurut wasit Purwanto yang saat itu memimpin pertandingan, dirinya tidak melarang ataupun memaksa atlet tersebut melepas jilbab saat bertanding.

Ia mengaku hanya menyuruh agar karateka yang bernama Auliya pelajar asal Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Harapan Umat Ngawi Jatim tersebut bersedia memakai jilbab sesuai standar atau aturan World Karate Federation (WKF) yang berlaku.

“Kami sama sekali tidak melarang atau menyuruh peserta lepas jilbab, kami hanya meminta agar Auliya mengenakan jilbab sesuai aturan WKF, itu saja,” kata Purwanto saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (26/12/2016) malam.

Dia juga menjelaskan bahwa soal pemakaian standar jilbab telah disosialisasikan pada saat technical meeting (TM) yang dihadiri oleh para pelatih dan manajer masing-masing kontingen.
Tak hanya saat technical meeting, sebelum pertandingan dimulai, panitia juga telah mensosialisasikan penggunaan jilbab standar WKF.

“Sudah kami sampaikan di TM dan sudah disepakati di TM. Banyak peserta yang sudah memakai jilbab sesuai standar WKF,” tambahnya.

Dirinya menyampaikan bahwa meski peserta yang lain telah mengenakan jilbab sesuai WKF, Aulia tetap tidak mengenakan jilbab sesuai standar WKF. Padahal wasit telah memberikan kesempatan pada karateka untuk mengubah standar jilbab yang ia kenakan.

“Wasit tidak langsung melarang bertanding, namun memberikan kesempatan kepada Aulia untuk mengenakan jilbab standar WKF, namun setelah kami tunggu dan dipanggil berkali-kali pihaknya tidak hadir di tempat pertandingan, sehingga kami nyatakan di diskualifikasi,” ujar Purwanto.

Ditegaskan Purwanto, pihaknya bisa menuntut si atlet apabila tidak memberikan konfirmasi, selain itu dirinya menyesalkan oknum yang menyebarkan berita ini ke media sosial tanpa melakukan konfirmasi ke panitia.

“Kami bisa menuntut si atlet apabila tidak melakukan konfirmasi terkait pemberitaan ini,” tuturnya.

Terpisah, Suyanto Kasdi, Wakil Bidang Prestasi FORKI Jatim ikut ambil bicara. Dia menjelaskan bahwa standar pemakai jilbab bagi karateka muslim telah diatur oleh WKF.
“Semua sudah ada aturan dan harus ditaati oleh peserta,” tegas Suyanto Kasdi, Senin (26/12/2016).

Jilbab harus dibuat bentuk mirip kerpus yang menutupi rambut dan telinga sesuai standar WKF. Standar tersebut wajib dan menjadi ketentuan yang harus dijalankan karateka yang mengenakan jilbab. (bens – sisidunia.com)