Home » Ekonomi & Bisnis » Gedung Pencakar Langit Semakin Bertebaran di Dubai dan Arab Saudi

Gedung Pencakar Langit Semakin Bertebaran di Dubai dan Arab Saudi



Dubai – Dua kota di kawasan Timur Tengah yakni Dubai dan Arab Saudi tengah berlomba-lomba dalam membangun gedung pencakar langit tertinggi di dunia. Dubai memiliki proyek The Tower, sedangkan proyek Arab Saudi adalah Jeddah Tower.

Gedung Pencakar Langit Semakin Bertebaran di Dubai dan Arab Saudi

Dilansir dari laman CNN, Sabtu (24/12/2016),konstruksi telah dimulai duluan oleh The Tower di Dubai Creek Harbor, sebuah pengembangan waterfront yang luas. Pembangunan ditargetkan rampung menjelang Dubai Expo 2020 yang direncanakan berlangsung pada Oktober di tahun itu.

Bangunan menjulang tinggi hingga menembus awan ini memiliki tinggi 3.045 kaki (928 meter), bertujuan menjadi mengambil gelar menara tertinggi di dunia. Tentu menara ini akan mengalahkan Burj Khalifa yang memiliki tinggi 2.723 kaki (830 meter) yang rampung pada 2010.

Namun, The Tower akan memiliki pesaing yakni Jeddah Tower yang terletak di Arab Saudi. Bangunan ini juga diperkirakan akan rampung pada 2020. Ketika selesai dibangun, bangunan vertikal sekaligus mengilap ini akan memiliki tinggi 236 kaki (72 meter) atau lebih tinggi dari yang Dubai bangun.

Jika The Tower di Dubai menginginkan gelar juara sebagai menara tertinggi di dunia untuk sementara waktu, maka harus segera meresmikannya sebelum Jeddah Tower rampung dibangun. Menara ini akan menjadi jantung utama dari Dubai Creek Harbour, salah satu perkembangan wisata dan gaya hidup terbesar di dunia yang membentang di 2,3 mil persegi (6 kilometer persegi).

Sudah Mulai dibangun dan siap bersaing kedua menara ini dibangun dengan teknik modern. The Tower, di Dubai, sedang dibangun oleh Emaar, sebuah perusahaan real estat raksasa yang juga berperan membangun Burj Khalifa. Menara dengan ketinggian 928 meter ini diharapkan mampu menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Arsiteknya seorang blasteran Swiss dan Spanyol benama Santiago Calatrava Valls. Menara akan menampilkan The Pinnacle Room, sebuah titik pengamatan (observation deck) yang menawarkan pemandangan 360 derajat dari seluruh kota. Tersedia juga sebuah taman publik vertikal.

Sementara lantai 18 sampai 20 diperuntukkan sebagai hunian, restoran, toko-toko dan hotel butik. Jika konstruksi dimulai sesuai jadwal, menara yang menelan biaya USD1 miliar ini akan hanya rampung dibangun dalam kurun waktu tiga tahun. Sementara itu, Jeddah Tower, di Arab Saudi, akan memakan waktu sedikit lebih lama dalam hal pembangunannya.

Baca juga : Principal Li Realty : Banyaknya Penduduk dengan Pendapatan Menengah Ke Bawah Itu Faktor Jakarta Timur Tertinggal

Semula, pembangunan menara berbentuk panah ini dimulai pada 1 April 2013 dan dijadwalkan selesai pada 2018. Namun, tanggal pembukaannya telah molor sebanyak dua kali. Dalam membangunnya, membutuhkan beton sekitar 5,7 juta kaki persegi dan 80.000 ton baja.

Adapun nilai proyek pembangunan berkisar USD1,23 miliar. Sudah sebanyak 40 lantai yang terbangun, sehingga tersisa 212 lantai lainnya yang belum dibangun. Tentu hal ini tidak dapat disangkal bahwa akan lebih tinggi ketimbang Dubai Tower.

“Proyek Dubai adalah menara observasi, dan karena itu tidak akan memerlukan waktu setara dengan bangunan yang secara keseluruhan dibangun untuk hunian dan sejenisnya. Sehingga 2020 adalah kemungkinan tepat untuk menyelesaikan (pembangunan),” kata Manajer Komunikasi Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) Jason Gabel.

Mengingat tinggi The Tower kurang dari 50% tingginya adalah merupakan ruang yang dapat digunakan, maka itu didefinisikan oleh CTBUH sebagai ‘menara pendukung’ ketimbang ‘bangunan’.

Teknis ini sebenarnya tidak bisa menjadikan The Tower sebagai gedung tertinggi di dunia. Sebaliknya, itu akan menjadi struktur buatan manusia tertinggi di dunia atau menara, sampai Jeddah Tower selesai.
(Muspri-sisidunia.com)