Home » News » Diduga Pesawat Hercules Jatuh Karena Cuaca, Ini Tanggapan Pihak BMKG

Diduga Pesawat Hercules Jatuh Karena Cuaca, Ini Tanggapan Pihak BMKG



Jakarta – Badan Metereologi dan Geofisika membantah kemungkinan jatuhnya pesawat Hercules TNI Angkatan Udara di Jayawijaya, Papua, akibat cuaca buruk. Menurut BMKG, saat kejadian, kondisi cuaca sangat layak untuk terbang.

Diduga Pesawat Hercules  Jatuh Karena Cuaca, Ini Tanggapan Pihak BMKG

Diberitakan oleh tvOne, Kurniaji, Staf Sub Bidang Metereologi BMKG menyangsikan jatuhnya pesawat tersebut karena kondisi cuaca. Menurutnya, kondisi cuaca saat itu sangat layak untuk penerbangan.

“Pesawat tersebut jatuh sekitar pukul lima atau enam pagi.
Namun angin dan kecepatan udara saat itu berada dalam kondisi normal. Memang visibilitas agak berkurang, namun pengurangan tersebut masih berada dalam kondisi layak terbang,” ujar Kurniaji, Minggu malam, 18 Desember 2016.

Sementara itu, menurut spesifikasinya, pesawat Hercules berjenis C-130 dengan nomor penerbangan A-1334 ini termasuk pesawat canggih dan mampu lepas landas serta mendarat dalam berbagai landasan, termasuk landasan pasir dan rumput.

Pesawat ini adalah salah satu dari empat pesawat Hercules yang merupakan hibah dari Australia. Serah terima pesawat ini terjadi pada bulan Februari 2016. Pesawat tersebut sudah dipakai Australia sejak tahun 1980-an, namun sebelum serah terima, kondisi pesawat tersebut sudah dimutakhirkan.

Baca juga : Evakuasi Korban Pesawat Hercules Yang Meninggal Ke Lanud Wamena

Seperti yang diketahui, pesawat Hercules C-130 milik TNI Angkatan Udara dengan nomor pesawat A-1334 jatuh di Distrik Minimo, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Minggu pagi, 18 Desember 2016. Pesawat yang membawa 12 kru pesawat dan 1 penumpang dinas ini sebelumnya dalam misi perjalanan dari Timika menuju Wamena.

Pesawat berangkat dari Timika menuju Wamena pukul 05.35 WIT, dan direncanakan tiba di Wamena pukul 06.13 WIT. Pesawat sempat mengontak tower di Wamena pukul 06.02 WIT, dan menyampaikan akan segera mendarat di ujung runway 15. Namun, karena ujung runway 15 di Wamena kurang baik, tower mengubah pendaratan pesawat di runway 33.

Pada 06.08 WIT, petugas tower Wamena secara manual sempat melihat pesawat akan mendarat. Petugas tower kemudian berusaha kembali mengontak pesawat pada 06.09 WIT untuk memastikan pendaratan, tapi sudah tidak ada jawaban atau lost contact.
(Muspri-sisidunia.com)