sisidunia

Selamat Datang di Portal Berita Www.SisiDunia.Com

 

Saran dan masukan dari Anda sangat kami harapkan guna membangun sebuah portal berita yang bisa memberikan informasi untuk pengetahuan Anda.

 

 Admin,

 www.sisidunia.com

Home » News » Rusia Dituding Meretas Pemilu AS Untuk Menangkan Donald Trump

Rusia Dituding Meretas Pemilu AS Untuk Menangkan Donald Trump



Moskow – Setelah dituduh terlibat peretasan pemilu presiden AS yang memenangkan Donald Trump, Pemerintah Rusia akhirnya angkat bicara.

Rusia Dituding Meretas Pemilu AS Untuk Menangkan Donald Trump

CNN mengabarkan Jumat (16/12/2016), Dmitry Peskov, Juru Bicara Kepresidenan menjelaskan, tuduhan AS yang menyebut Rusia di balik peretasan Pemilu AS itu idak berdasar dan angkuh. “Mereka sebaiknya menghentikan omongan yang tidak ada buktinya itu,” kata Peskov kepada kantor berita Rusia Tass. “Atau tuduhan itu memang tidak layak,” sambungnya.

Baca juga : Penganut Supremasi Kulit Putih Telah Membunuh Sembilan Jemaat Kulit Hitam

Tuduhan itu dilayangkan Pemerintah AS berdasarkan bukti kuat yang dikumpulkan jajaran intelijen AS. “Tidak diragukan lagi, kita harus mengambil tindakan bila ada negara asing yang mencoba menguji integritas pemilu AS,” kata Presiden Obama dalam konperensi persnya Jumat (16/12/2016).

Ribuan data dan email dicuri dari Komite Nasional Demokrat, termasuk data milik John Podesta, juru kampanye Hillary. Oktober lalu, badan intelijen AS menuduh Rusia berada di balik aksi peretasan itu. Seorang pejabat tinggi AS menjelaskan, “Operasi itu dilakukan menggunakan peralatan peretas cukup canggih,” katanya.

Sementara itu, Hillary Clinton menuduh, Presiden Vladimir Putin ikut terlibat dalam Operasi Peretasan Komite Nasional Demokrat karena dendam lama terhadap Hillary Clinton.

Seorang analis anti-terorisme, Phillip Mudd menyatakan pihaknya sudah muak dengan ucapan Gedung Putih dan tim transisi Donald Trump. “Tutup mulutmu Gedung Putih! Tutup mulutmu kantor Trump! Cari tahu apa yang kita lakukan kelak. Jangan lagi ngomong upaya enam bulan lalu,” kata Phillip Mudd kepada CNN. (bens – sisidunia.com)