Home » News » Perhimpunan PSK Yogyakarta Kritik Rencana Penutupan Lokalisasi

Perhimpunan PSK Yogyakarta Kritik Rencana Penutupan Lokalisasi



Yogyakarta – Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Komersial Yogyakarta (P3SY) menilai, menggusur dan menutup lokalisasi bukanlah solusi terbaik untuk penanggulangan penyakit masyarakat tersebut.

Perhimpunan PSK Yogyakarta Kritik Rencana Penutupan Lokalisasi

Menutup lokalisasi justru bisa memunculkan lokalisasi terselubung. Dengan demikian, akan menjadi sulit menangani efek kesehatan seperti HIV/AIDS.

“Dampaknya koordinasi kesehatan tak ada, mangkalnya dimana, ngumpulnya dimana, harus memberi informasi tentang kesehatan bagaimana. Takut kalau sudah ditutup teman-teman tetap kerja tapi sembunyi-sembunyi,” kata Koordinator P3SY, Sarwi, Jumat (16/12/2016).

Baca juga : Wanita Tuna Susila Dan Pria Hidung Belang Ditangkap Jajaran Polres Tabanan

Sarwi menambahkan, selama ini dengan adanya lokalisasi mempermudah perlindungan medis dan kekerasan terhadap PSK. Ia mencontohkan, di Pasar Kembang (Sarkem), sudah ada sistem perlindungan kesehatan dan kekerasan yang cukup bagus, dengan melibatkan berbagai pihak, baik dari Komisi Penanggulangan AIDS, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial.

Bahkan, para PSK secara sadar memeriksakan diri kesehatannya secara berkala. Sistem tersebut sudah terbangun lama.

Menurutnya, selama ini dikskriminasi dan stigmatisasi masih kental diletakkan pada komunitas PSK. Kondisi tersebut diperburuk dengan adanya wacana Indonesia Bebas Prostitusi di tahun 2020 mendatang. Bahkan, wacana penutupan Sarkem juga sudah menyeruak dan menjadi kekhawatiran bagi PSK.

Kondisi tersebut diakui Sarwi semakin membuat posisi tawar PSK lemah, semakin rentan, baik rentan terhadap kekerasan dan rentan resiko kesehatan, serta potensi terpapar HIV bisa menjadi lebih tinggi.

Sarwi menyatakan, persoalan PSK tidak hanya persoalan moralitas, melainkan persoalan sosial juga. menjadi pekerja seks bukan keinginan namun pilihan karena negara tidak mampu memberikan lahan pekerjaan bagi mereka.

“Memilih pekerjaan lain sangat dimungkinkan secara perlahan dan tanpa paksaan, namun penggusuran dan penutupan bukanlah pilihan bijak,” ujar Sarwi.

(bens – sisidunia.com)