Home » News » Pendapat Kemenhub Tentang Bus Telolet Di Ngabul

Pendapat Kemenhub Tentang Bus Telolet Di Ngabul



Jakarta – Sekumpulan anak di Ngabul Jepara senang menunggu bus yang lewat dan meminta sopirnya membunyikan klakson bus yang bernada unik alias ” bus telolet”. Apa pendapat Kemenhub?

Pendapat Kemenhub Tentang Bus Telolet Di Ngabul

“Fenomena bus telolet ini sudah lama, sekarang balik lagi,” tutur Kasubbag Humas Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Pitra Setiawan, Kamis (15/12/2016).

Kemenhub berpatokan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan diperkenankan untuk memodifikasi berat dan daya angkut kendaraan. Sedangkan klakson tidak diatur modifikasi nada bunyinya, hanya diatur besaran suaranya tidak melebihi 83-118 desibel.

“Bila sudah diuji desibelnya dalam ambang batas wajar dan tak melebihi ambang batas, maka tidak masalah,” jelasnya.

Namun bila fenomena “bus telolet” itu menyebabkan kemacetan dan mengancam keselamatan, maka penertibannya adalah wilayah Kepolisian.

Mengenai modifikasi klakson bus, Ketua Bis Mania Community (BMC) Arief Setiawan mengatakan bahwa klakson bus telolet itu bukan bawaan dari produsen bus atau karoseri.

“Kalau bawaan dari pabrikannya itu klakson biasa. Cuman itu awalnya telolet itu kalau nggak salah dari Arab atau mana untuk mengusir onta itu loh, dimodifikasi di sini, jadi ada banyak lagu, 6 tombol sampai 12 tombol. Itu kreativitas driver dan kenek sendiri, kadang mereka patungan untuk beli klakson telolet itu,” ujar Arief dalam perbincangan dengan detikcom hari ini.

Arief yang warga Jepara dan sering menjadi komuter Jepara-Jakarta-Jepara dengan naik bus ini mengatakan, sudah menjumpai modifikasi klakson sejak 2013 lalu.

“Tiga atau empat tahun lalu. Sudah lama. Waktu itu saya menjumpainya di bus Efisiensi ruter Yogya-Purwakarta,” jelas dia.

(bens – sisidunia.com)